Rabu, 25 Maret 2009

Apa itu MC?

A. Pendahuluan

Suatu saat kawan-kawan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Dakwah sedang merencanakan sesuatu acara kejutan bagi salah seorang pengurusnya. Acara kejutan tersebut sebenarnya merupakan apresiasi kawan-kawan HMJ Dakwah terhadap salah seorang pengurusnya yang berulang tahun pada saat itu.

Awalnya acara kejutan tersebut diisi dengan drama yang melibatkan salah seorang pengurus yang berulang tahun tadi. Dalam adegan drama tersebut ada satu pengurus yang memobilisasi jalannya drama.

Ketika dirasa cukup adegan drama yang diperagakan oleh kawan-kawan HMJ Dakwah, kemudian sang kreator acara yang tadi memobilisasi jalannya drama pun melangkah pada session acara yang berikutnya.

Acara selanjutnya yakni penggiringan salah seorang pengurus HMJ Dakwah yang berulang tahun tadi ke suatu ruangan yang mana di dalam ruangan tersebut telah dipersiapkan acara kejutan yang dimaksud. Pada awalnya kejutan pertama dimulai dengan balon yang meledak tiba-tiba di depan wajah salah seorang pengurus HMJ Dakwah yang berulang tahun. Kejutan kedua munculnya seluruh pengurus HMJ Dakwah di semak-semak sudut ruangan sambil menyanyikan lagu “Selamat Ulang Tahun”. Kejutan ketiga yakni ucapan selamat ulang tahun dari Ketua HMJ Dakwah yang sekaligus memberikan pesan-pesannya pada salah seorang pengurusnya yang berulang tahun.

Usai Ketua HMJ Dakwah memberikan pesan dan sambutannya, seiring kemudian datanglah kejutan selanjutnya yakni pemotongan kue ulang tahun oleh salah seorang pengurus yang berulang tahun. Kemudian usai acara pemotongan kue, tiba saatnya salah seorang pengurus yang berulang tahun pada saat itu memberikan pesan dan kesannya setelah ulang tahunnya dirayakan dengan meriah oleh seluruh jajaran kepengurusan HMJ Dakwah.

Seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya acara terakhir pun tiba. Pembacaan do’a pun dilantunkan oleh salah seorang hadirin yang hadir pada acara tersebut. Dengan penuh khidmat dan kekhusyukan hadirin seakan menghayati bait demi bait do’a yang merupakan acara terakhir dari seluruh rangkain acara yang ada.

Itulah seuntai cerita singkat yang menuntut kita berpikir lebih dalam akan siapa sosok yang mengatur, memobilisasi dan merangkai seluruh rangkaian acara yang terkandung dalam cerita singkat di atas.

Jika kita dapat berpikir dan mengkajinya, pasti kita akan menemukan sosok yang dimaksud. Sosok yang dimaksud tersebut bukanlah seorang penyanyi, bukan seorang penari ataupun sejenisnya. Akan tetapi sosok yang dimaksud adalah Master Ceremonial atau yang populer di telinga masyarakat yakni MC. Biasanya MC juga dikaitkan dengan istilah Pembawa Acara. Tugas yang paling mencolok dari Pembawa Acara atau MC ini yaitu menggiring dan memobilisasi satu demi satu rangkaian acara dengan teratur dan baik.

Apabila kita membahas lebih mendalam lagi tentang apa itu MC ataupun Pembawa Acara, pastilah pembahasan ini tidak akan berakhir dengan singkat. Banyak sekali pengantar-pengantar definisi yang menjelaskan lebih luas dan dalam lagi. Oleh karena itu, agar nantinya pembahasan ini dapat teratur dan sistematis, kita akan membahasnya dalam sesi pembahasan.

B. Pembahasan

Pada hakikatnya pengertian ataupun definisi luas dari makna Master of Ceremony (MC), yang biasa juga disebut pembawa acara ini adalah seseorang yang memiliki keterampilan seni dalam bidang improvisasi untuk menghantarkan acara dengan teratur, baik dan memiliki karakteristik yang khas.

Seorang Pembawa Acara atau MC walaupun dalam tradisi kearifan lokal memiliki kesatuan makna yang sangat lekat, sebenarnya kedua hal tersebut memiliki pemaknaan yang berbeda di dalamnya.

Seperti pemaknaan Pembawa Acara yakni seseorang yang bertugas untuk menghantar rentetan acara-acara yang sifatnya resmi, sangat terikat pada etika protokoler, dan tidak banyak improvisasi dalam menghantar acara.

Sedangkan pemaknaan dari Master of Ceremony (MC) yakni seseorang yang memiliki kreativitas dan improvisasi tingkat tinggi dalam menghantar suatu acara. Seorang Master of Ceremony harus mampu membaca situasi, menciptakan suasana sesuai dengan karakteristik acaranya, dan memungkinkan adanya dialog dengan audience.

Berbicara akan hal ini, menyulut pengetahuan akan adanya fungsi dari Master of Ceremony (MC) itu sendiri. Hal ini tidak mengada-ada karena mengingat bahwa seringkali seorang MC merangkap sekaligus sebagai penyanyi, seorang MC merangkap sebagai pelawak dan lain-lain.

Adapun fungsi dari MC itu sendiri yakni orang yang bertugas memandu acara dan bertanggung jawab atas lancar dan suksesnya acara. Seringkali fungsi ini ditampilkan dan diaktualisasikan ketika acara-acara hiburan yang menuntut kreativitas dan improvisasi sesuai dengan jenis acaranya. Memang semua yang dilakukan oleh MC tidak mudah, mengingat tanggung jawabnya terhadap hubungannya dengan image atau citra penyelenggara acara dan kredibilitas seorang MC itu sendiri.

Sebagai refleksi dari makna substansi MC itu sendiri, sedianya ada standar yang cocok untuk profesi ini. Di antara standar yang dimaksud, tertuju berdasarkan aspek kepribadian. Kepribadian tersebut, antara lain:

Ekstrovert, yaitu orang-orang yang suka mengekspresikan apa yang dipikirkan, dirasakan, kepada orang lain; pendek kata orang yang suka memperbincangkan berbagai hal dengan orang lain secara terbuka.

Generalis, yaitu orang yang memiliki banyak pengetahuan umum, yang akan memungkinkan dia untuk “bicara apa saja”.

Fleksibel, yaitu orang yang luwes, mudah menyesuaikan diri dengan situasi. Friendly, yaitu orang yang mudah bergaul, dank arena pembawaannya disenangi banyak orang.

Namun dari empat aspek kepribadian khusus untuk profesi MC yang disebutkan di atas, ada persyaratan utama yang harus dimiliki oleh seorang Master of Ceremony. Persyaratan umum tersebut berkisar pada 8 aspek. 8 aspek tersebut, antara lain:

Pertama, memiliki pengetahuan dan pengalaman yang luas. Dengan memiliki pengetahuan yang cukup dan pengalaman hidup akan membentuk sikap penuh pengertian kepada masyarakat, serta mampu menghargai dan memaklumi gejolak yang hidup di sekelilingnya. Dengan kedalaman pengetahuan yang menyangkut peri kehidupan serta nilai-nilai yang dianut masyarakat, seorang Master of Ceremony dapat dengan mudah menguasai audience-nya. Pengalaman akan menjadi sumber kreativitas yang sangat efektif sesuai dengan tuntutan situasi.

Kedua, cerdas. Jika tadi ada pengetahuan dan pengalaman hidup yang merupakan tuntutan utama di antara persyaratan untuk menjadi Master of Ceremony. Lain lagi ceritanya jika salah satu persyaratannya lagi yakni pada aspek kecerdasan. Kecerdasan dianggap penting, karena mengingat seorang MC walaupun telah memiliki pengetahuan tentang ke MC-an dan pengalaman yang cukup di bidang ini, terasa kedua hal tersebut belum mencukupi. Seorang MC dikatakan berhasil, salah satunya dengan adanya kecerdasan yang dimilikinya. Seorang MC tidak hanya bermodalkan tampang dan penampilan luar semata, akan tetapi kreativitas dan penghayatan yang termasuk dalam kategori kecerdasan pun juga diperhitungkan dalam setiap penampilan seorang MC.

Ketiga, rasa humor. Humor merupakan salah satu bumbu yang akan selalu ada dimanapun akan diperlukan. Begitupula dalam rangkaian aspek seorang MC. Humor akan selalu ada dalam alur-alur program acara non formal. Pada acara non formal inilah yang akan membantu seorang MC untu berinovasi membentuk suatu rangkain acara yang menarik.

Keempat, sabar. Seorang MC harus memiliki sifat yang sabar dalam menghadapi segala cobaan dan rintangan yang berusaha menghalangi ataupun menghambat kesuksesan dalam pemograman acara dengan baik.

Kelima,imajinasi. Seorang MC harus memiliki modal utama yang cukup signifikan dalam menjalankan tugas dari profesi yang ia geluti. Hal ini dikarenakan tuntutan permintaan konsep acara yang berbeda-beda yang diinginkan oleh setiap penyelenggara acara. Kadangkala seorang MC akan berhadapan dengan situasi yang tidak terduga sebelumnya kala berhadapan dengan audience. Perkiraan dan perencanaan konsep acara yang sebelumnya telah dirancang oleh MC, bisa jadi berubah kala melihat respon audience yang tak sesuai dengan perkiraan MC. Misalnya ketika audience tertawa terbahak-bahak kala melihat penampilan MC yang menurut audience lucu, si MC pun mau tidak mau harus menyesuaikan respon audience, walaupun tidak sesuai dengan konsep acara yang diperkirakan sebelumnya. Nah, di sinilah imajinasi MC ditunjukkan dan diexplore.

Keenam, antusiasme. Seringkali aktivitas manusia harus dikerjakan sepenuh hati atau berjalan begitu saja. Hal ini disarankan agar semua aktivitas yang kita lakukan berjalan dengan penuh sungguh-sungguh dan antusiasme. Begitu juga dengan MC. Seorang MC tidak mungkin menjalankan aktivitasnya tanpa antusiasme, sebab tanpa itu hampir dapat dipastikan bahwa dia akan gagal menjalankan perannya. Antusiasme akan terlihat oleh audience dan akan mempengaruhi mereka. Antusiasme akan mencerminkan kesungguhan MC, dalam komunikasi yang terjadi antara MC dan audiene-nya. Audience akan segera merasakan bila sang MC ogah-ogahan, lemas atau sebaliknya sangat bersemangat, dari antusiasme yang terkandung dalam suara dan ekspresi wajahnya. Namun demikian jangan meletakkan antusiasme pada kesempatan yang salah.

Ketujuh, rendah hati dan bersahabat. Kerendahan hati membuat penampilan MC menjadi sosok yang ramah, berwajah cerah, dan siap berdialog sebagaimana seorang sahabat layaknya.

Kedelapan, kemampuan bekerjasama. Sebagai seorang MC haruslah saling bekerjasama dan saling tolong menolong sesama partner kerja, partner acara dan semua pendukung yang telah mensukseskan runtutan acara yang dibawakan dari awal hingga akhir.

Menjelaskan sedikit tentang protokoler. Pada dasarnya protokoler bermula dari kata “protokol” berasal dari bahasa Yunani protos dan kola. Dalam bentukan kata “protocollum” berarti “yang pertama diletakkan”, dan dalam perkembangannya kita memiliki kata “protocol” yang berarti lembar pertama yang dilekatkan pada dokumen perjanjian internasional, yang memuat tentang urutan acara.

C. Penutup

Optimalisasi kerja seorang MC sangatlah diharapkan dan dinanti realitasnya dalam menghantarkan sesuatu acara yang berkualitas, baik dan teratur. Semua itu dapat terealisasi jika dalam prosesnya terjangkit dan tersebar beberapa elemen penting yang dapat mendukung terwujudnya hal tersebut.

Di antara sekian banyak elemen pokok yang dapat memberikan energi tambahan bagi seorang MC dalam menjalankan profesinya itu, ada empat energi kepribadian yang sedianya dapat memberi suntikan kekuatan bagi MC, antara lain; pertama, pribadi ekstrovert yaitu orang yang suka mengekspresikan apa yang dipikirkan. Kedua, generalis yaitu orang yang memiliki banyak pengetahuan umum. Ketiga, fleksibel yaitu orang yang luwes dan mudah menyesuaikan diri dengan situasi. Keempat, friendly yaitu orang yang mudah bergaul dank arena pembawaannya demikian, oleh karena itu ia disenangi banyak orang.

Selain empat energi tadi, ada pula elemen-elemen yang harus dimiliki oleh seorang MC. Elemen tersebut terangkum dalam 8 elemen pokok, antara lain: memiliki pengetahuan dan pengalaman yang luas, cerdas, memiliki rasa humor, sabar, memiliki imajinasi, antusiasme, rendah hati dan bersahabat, dan kemampuan bekerjasama.

Dalam setiap menjalankan profesinya, seorang MC tidak hanya mempersiapkan berbagai macam energi untuk prosesi kerja MC. Akan tetapi butuh suatu persiapan yang matang agar prosesi kerja MC dapat berjalan sesuai dengan rencana dan planning yang telah dipersiapkan sebelumnya. Di antara persiapan yang dimaksud yakni adanya teks protocol. Teks protocol di sini gunanya untuk memberikan suatu lembaran nyata akan adanya isi rentetatan acara yang akan dilaksanakan. Dengan adanya protocol inilah segala persiapan yang diperlukan seorang MC semakin komplit dan siap untuk ditunjukkan ataupun ditampilkan kepada khalayak ramai.

DAFTAR PUSTAKA

1. Lies Aryati, 2007, Panduan Untuk Menjadi MC Profesional, PT Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar