Kamis, 12 Februari 2009

Tafsir Mimpi

TAFSIR MIMPI

Oleh: Septian Utut

Ini kisah nyata. Kisah ini terjadi kala aku masih mengenyam pendidikan di SMP Tahfidz Pondok Pesantren Al-Amien, Prenduan-Sumenep Madura. Awalnya aku mempunyai teman, namanya Tatkala. Ia seumuran denganku kala itu. Ia berasal dari Pulau Arjasa yang letaknya berdekatan dengan daerah Siduarjo, Jawa Timur. Dilihat dari tampangnya ia memiliki kelopak mata yang sedikit menjulur ke depan. Mukanya lonjong dan rambutnya terkesan acak-acakan jika dilihat sepintas. Postur tubuhnya tinggi kerempeng.

Akhir-akhir ini Tatkala sering menunjukkan tingkah laku yang berbeda dari biasanya. Biasanya ia selalu ceria di kala temannya mengajaknya bergurau. Namun entah mengapa tiga hari ini ia selalu menyendiri tanpa sebab yang pasti. Sebagai teman sekamarnya di pondok, aku seringkali menanyakan sebab-musabab alasan ia sering menyendiri. Namun hasilnya nihil, ia tidak mau mengucapkan sedikitpun katanya di hadapanku. Walaupun begitu aku tak menyerah begitu saja. Setelah mencari waktu yang tepat untuk dapat menanyakan kembali tentang alasan Tatkala sering menyendiri, aku pun kembali menghampirinya.

“Tat, Limdza ta’mal kadzalik?” (Tat, kenapa kamu berbuat demikian?)

“Limadza?” (Kenapa?)

Tatkala balik bertanya. Namun dalam hatiku tersimpan rasa lega, akhirnya satu kalimat telah diucapkan olehnya. Menurutku ia sudah mau memberikan informasi tentang masalahnya kepadaku.

“Na’am, madza ta’maluka mundu usbuil akhir? Ana unduruka binafsii miraran. Maa syaii’?” (Iya, apa yang kamu lakukan sejak satu minggu terakhir ini? Soalnya saya lihat kamu sering menyendiri terus. Memang ada apa?). Ujarku.

Tatkala diam sejenak. Entah apa yang ia pikirkan. Matanya melihat ke samping kanan dan kiri. Lalu seketika ia membisikkan perkataannya di dekat telingaku.

“Gini ada yang aku ingin ceritakan sama kamu. Tapi jangan bicara di sini ya. Soalnya aku takut di mahkamah oleh bagian bahasa, karena menggunakan bahasa Indonesia di hari berbahasa Arab.” Ujarnya.

“Iya deh, mendingan kita bicara di kantin aja yuk… sambil minum-minum.” Ucapku dengan nada rendah.

Pelanggaran bahasa memang sering kami langgar. Pasalnya di pondok ini kami termasuk salah satu santri baru, jadi tak berlebihan kiranya jika kami sering melanggar bahasa secara diam-diam.

Sesampainya di kantin Tatkala tidak langsung berbicara mengenai cerita yang akan ia ceritakan kepadaku, melainkan ia memesan makanan dan minuman terlebih dahulu. Waktu itu suasana kantin terlihat sepi tidak seperti biasanya. Oleh karenanya kami serasa menikmati indahnya malam di balutan hitamnya langit yang dihiasi oleh bulan dan bintang.

Tak lama kemudian, “Gini Sep…” Tatkala memulai pembicaraan.

“Gini alasan aku sering menyendiri akhir-akhir ini, karena ada satu masalah yang aku hadapi.” Ujar Tatkala kepadaku sambil meneguk minuman yang tadinya ia pesan.

“Emang masalah kamu apa?” Tanyaku.

“Gini, seminggu yang lalu aku bermimpi buruk. Dalam mimpi burukku itu, aku melihat sosok wanita berambut panjang dan berbajuh putih sedang bergantung di luar kaca kamar kita.” Ujarnya.

Mendengar cerita mimpi buruk yang dialami oleh Tatkala itu, tubuhku sedikit mengkerut karena ketakutan. Tapi walaupun begitu aku tetap berusaha untuk menyimak secara penuh segala cerita pengalaman mimpi buruk yang dialaminya.

“Ah yang bener aja kamu Tat. Mungkin kamu keseringan berkhayal yang nggak-nggak kalee.” Pikirku.

“Gak kok, aku gak berkhayal, ini emang beneran muncul di mimpiku. Tapi bukan itu saja yang membuatku selalu menyendiri akhir-akhir ini. Namun ada satu hal lagi yang membuatku ketakutan di setiap menjalani hari-hariku yaitu mimpi buruk berupa penampakan gadis berambut panjang dan memakai baju putih panjang yang bergantungan di luar kaca kamar kita itu, tiga hari yang lalu datang dengan penampakan aslinya ketika aku terjaga dari tidurku.” Ungkapnya.

Mendengar pernyataan yang dilontarkan oleh Tatkala itu, tubuhku semakin gemetaran dan seketika mengeluarkan tetesan keringat dari pori-pori tubuh. Aku tak tahu harus berkata apa. Sejenak kucoba untuk menenangkan diri agar tidak terkesan gugup karena takut. Tak lama kemudian entah mengapa pikiranku melayang jauh kepada memori masa kecil. Kutinggalkan sejenak bincang-bincangku dengan Tatkala, seketika aku pergi menerawang dimensi khayal 7 tahun silam.

***********************************************************

Dulu ketika aku berumur 11 tahun, aku sering dihinggapi oleh bermacam mimpi. Mulai dari mimpi yang baik hingga buruk. Dari sekian banyak mimpi yang kualami, mimpi buruklah yang lebih mendominasi menghinggapiku. Seperti dikejar anjing, babi, jatuh ke jurang, dikejar kuntilanak itu merupakan beberapa mimpi buruk yang telah kualami di masa kecil.

Mimpi buruk yang kualami itu biasanya langsung kuceritakan pada Ibuku ataupun Bapakku. Namun yang sering menjadi ajang obrolan kala kecil yakni Ibuku tercinta. Berbagai macam pemibicaraan termasuk mengenai mimpi yang kualami saat itu langsung kuceritakan full kepadanya.

Awalnya respon Ibuku biasa terhadap mimpi buruk yang kualami ketika itu, namun lama-kelamaan karena mimpi buruk itu selalu menghantuiku di setiap tidur, Ibuku baru mau membuka diri untuk merespon apa yang kualami. Respon yang datang dari Ibuku biasanya tidak langsung keluar dari mulutnya, melainkan transfer informasi dari nenekku. Biasanya respon yang dilayangkan kepadaku berupa tafsiran dari mimpi tersebut dan bagaimana mengatasi mimpi tersebut agar tidak terulang kembali.

Menurut Ibuku jika dalam mimpi ada orang sengaja yang membunuhku memakai sebilah pisau itu berarti ada yang tidak menyukaiku. Jika dalam mimpiku terlihat baying-bayang diair ataupun digelas, niscaya aku akan mendapat pekerjaan yang lebih baik lagi. Jika dalam mimpiku melihat cermin yang pecah, maka berhati-hatilah dengan bahaya yang akan menimpaku. Sebenarnya masih banyak lagi yang disebutkan Ibuku dalam menafsirkan berbagai macam mimpi yang kualami, namun itulah sebagian kecil yang kuingat hingga saat ini.

Berbicara mengenai tafsir mimpi, aku seakan teringat sebuah buku karya Imam Ibnu Sirin yang berjudul Tafsir Mimpi Menurut Islam. Dalam bukunya itu ia berkata: Tidak semua mimpi dapat ditafsirkan makna yang terkandung didalamnya. Ada kalanya mimpi bagaikan angin lalu namun ada yang benar-benar menjadi kenyataan. Mimpi insane yang bertaqwa merupakan pengkhabaran yang akan berlaku, karena Rasulullah tidak bermimpi melainkan mimpi baginda menjadi kenyataan. Sedangkan mimpi insan yang tidak beriman merupakan berita yang disebarkan oleh syaitan.

Dari situs yang dihimpun di Wikipedia Indonesia Ensiklopedia Bebas Berbahasa Indonesia mengatakan tafsir mimpi menurut Barat: Tafsir mimpi telah diamalkan sejak zaman Babilonia beribu-ribu tahun yang lalu. Aflatun, Aristu, Cicero, Kitab Injil, Shakespeare, Goethe dan Napoleon percaya bahwa mimpi tertentu meramalkan. Manusia sudah menafsirkan lambang dalam mimpinya menurut tamaduan dan masyarakatnya. Tidak ada apapun yang muncul dalam mimpi secara kebetulan, tiap gambaran adalah lambang yang dihargai yang merujuk kepada kehidupan anda dan pikiran yang paling mendalam. Mimpi ada tiga: pertama, mimpi jasmaniah. Mimpi ini tidak penting dan disebabkan oleh pikiran yang bangun dan bimbang, demam, ramuan obat dan dadah, penyakit. Mimpi ini tidak meramalkan. Kedua, mimpi subjektif yang berdasarkan pandangan sendiri. Mimpi ini penuh lambang dan meramalkan, walau bagaimanapun makna betul tersembunyi di lambang dan kias. Ketiga, mimpi rohaniah. Mimpi ini dilaksanakan oleh roh sendiri dan meramalkan.

Masih dari situs yang sama. Mimpi boleh melebih-lebihkan. Semua mimpi bukan menggembirakan atau meramalkan. Mimpi ngeri boleh meninggalkan tanggapan tahan lama yang menakutkan. Bila tertidur pikiran tidak aktif, jadi pikiran mimpi melebih-lebihkan dan mengherotkan gambaran dalam mimpi sehingga merangsang atau menakutkan. Jangan kuatir jika anda bermimpi ngeri. Mimpi-mimpi begitu biasanya hanya membesar-besarkan situasi yang anda sedang alami atau sesuatu kejadian yang akan berlaku. Mimpi ngeri biasanya mencerminkan sesuatu yang ada kena-mengena dengan situasi di masa lampau/masa kini atau bakal kejadian tersebut akan terjadi. Malah oleh karena anda sudah ditunjukkan adanya situasi/kejadian yang negative tersebut dalam mimpi anda maka kesannya tidak akan menjadi begitu kuat bagi anda. Sudah tentu elemen kejutan itu akan lebih kurang. Jadi janganlah anda risau jika mimpi ngeri anda itu sangat menakutkan.

Dalam sebuah hadist Nabi SAW telah bersabda, maksudnya: mimpi yang benar dari Allah dan mimpi yang buruk dari syaitan (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Dari www.serenapowers.com menyatakan bahwa mimpi yang buruk atau batil ialah mimpi yang ditimbulkan oleh bisikan nafsu, keinginan dan hasrat. Mimpi demikian tidak dapat ditakwilkan. Demikian pula mimpi “basah” dan mimpi lain yang mewajibkan mandi dikategorikan sebagai mimpi yang batil karena tidak mengandung makna. Sama halnya dengan mimpi yang menakutkan dan menyedihkan karena berasal dari syaitan. Allah ta’ala berfirman: “Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari syaitan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pembicaraan itu tiadalah memberi mudharat sedikitpun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah dan kepada Allahlah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakkal.” (Al-Mujadilah:10).

Apa yang terjadi oleh Tatkala merupakan bentuk mimpi yang buruk atau batil, karena yang ia jumpai dalam mimpi tersebut adalah sosok syaitan. Sosok syaitan yang ia jumpai dalam mimpinya tersebut merupakan halusinasi pikiran ataupun pengalaman terdahulu yang sering dingat. Oleh karenanya tidak heran jika kejadian dalam mimpinya terbawa arus dalam kehidupan nyata. Lalu apa yang harus dilakukan oleh Tatkala untuk menanggulangi mimpi semacam itu agar tidak terulang kembali?

************************************************************

Sejenak kuterbangun dalam lamunan khayalku. Kulihat Tatkala masih melahap makanan mi goreng yang dipesannya. Sesekali pula ia meneguk minuman teh botol sosro yang hampir habis.

“Ehm, ehm, ehm.”

Sengaja kuberdehem untuk menghidupkan kembali suasana yang sempat terhenti akibat pikiranku yang melayang jauh ke dimensi 7 tahun silam.

“Kenapa kamu Sep? masa’ dari tadi kamu bengong terus, kamu takut ngeliat gadis berambut panjang dan pakai baju putih yang bergantung di luar kaca kamar kita ya. Awas tu ntar malam dia nongol loh.” Ucapnya sambil menakutiku.

“Gak kok. Ngapain aku takut yang begituan. Gak jaman lagi!” Kataku.

“Trus kalo gitu, kenapa kamu dari tadi bengong terus?” Tanyanya.

“Gini tadi aku sempat berpikir tentang bagaimana menghindari dari mimpi yang semacam itu.” Kataku.

“Jadi bagaimana dong cara untuk menghindari mimpi yang begituan? Soalnya aku udah gak tahan lagi nih dilingkupi rasa takut setiap harinya.” Ujarnya.

Dalam obrolan santai itu aku pun memberikan informasi bagaimana menghindari dari mimpi buruk atau batil itu. Informasi itu aku dapatkan dari guru agamaku kala di SD Timur I Kalianget, Sumenep-Madura. Menurut guruku jika seseorang mengalami mimpi yang tidak disukai, disunahkan melakukan lima perbuatan, di antaranya yaitu mengubah posisi tidur, meludah ke kiri sebanyak tiga kali, memohon perlindungan Allah dari godaan syaitan yang terkutuk, bangun dan shalat, serta tidak menceritakan mimpinya kepada siapa pun.

Mendengar demikian Tatkala pun mengajukan pertanyaannya kepadaku. “O ya Sep, tadi pernyataan terakhir kamu ada bilang tidak boleh menceritakan mimpinya kepada siapa pun. Terus gimana ini aku udah kadung bercerita denganmu akan mimpiku ini.” Ucapnya.

“O masalah itu sih gak pa-pa lagian kamu juga baru dapat informasi ini dari aku. Tapi untuk selanjutnya mimpi yang kamu alami ini jangan diberitahukan kepada siapa pun ya.” Tandasku.

“O gitu. Iya deh insyaallah akan kusimpan rapat-rapat mimpiku ini. O ya sebelumnya terima kasih udah membantuku dalam mengatasi ketakutanku akhir-akhir ini. Aku janji setelah ini tidak akan menyendiri lagi Sep…” Ujarnya seraya mengucapkan janjinya kepadaku.

Malam semakin larut. Keheningan semakin terasa malam itu. Semua santri telah lelap dengan tidurnya masing-masing. Semoga mereka mengarungi mimpi yang baik dan indah. Jangan biarkan mimpi buruk yang menimpa Tatkala dialami oleh santri-santri lainnya. Amin…

Kenanganku di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep-Madura.

Penulis, Kabid Pemprof HMI Komisariat Dakwah.

Bimbingan Konseling

BIMBINGAN KONSELING DI PERGURUAN TINGGI

Komunikasi dan Konseling Solusi Problema Remaja Kampus

Oleh: Septian Utut

Konseling pada dasarnya merupakan suatu proses penyaluran bantuan yang dilakukan menggunakan wawancara konseling oleh seorang konselor kepada seseorang yang memiliki masalah atau bisa disebut klien yang pada intinya membahas, merenung, memberi solusi, dan akhirnya mengatasi masalah yang dialami oleh klien tersebut.

Pada umumnya konseling bermula dengan adanya pendekatan humanistic dan client centered. Oleh karenanya konseling erat hubungannya dengan permasalahan sosial, budaya, dan perkembangan selain permasalahan yang berkaitan dengan fisik, emosi dan kelainan mental. Dalam hal ini, konseling memahami kliennya sebagai seseorang yang membutuhkan pengentasan masalah yang sedang dihadapinya dengan cara berdialog secara langsung, bukannya pemberian terapi atau treatment untuk menyembuhkan fisiknya.

Konseling pada realitanya bisa dilakukan di berbagai bidang kehidupan, seperti di masyarakat, dunia industri, lingkungan, berbagai macam musibah dan di dunia pendidikan. Khusus di dunia pendidikan, layanan ini biasa disebut sebagai bimbingan konseling.

Berbicara mengenai bimbingan konseling erat kaitannya dengan proses pendidikan. Dalam hal ini dunia pendidikan banyak tingkat dan macamnya. Ada pendidikan formal yang terdiri dari tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), dan Perguruan Tinggi. Sedangkan pendidikan non formal yaitu jenis pendidikan yang dilakukan di luar area forum pendidikan. Misalnya, pendidikan orang tua kepada anak di rumah.

Dengan banyaknya sektor bagian dalam dunia pendidikan, oleh karenanya cukup satu sektor pendidikan saja yang akan dijelaskan di sini yaitu bimbingan konseling di Perguruan Tinggi.

Seperti diketahui bahwa individu-individu yang menempati area Perguruan Tinggi merupakan mahasiswa-mahasiswa yang memiliki kematangan secara fisik dan kesiapan untuk bereproduksi. Atau bisa dikatakan bahwa sekumpulan remaja yang berkreasi dalam membentuk karakter diri di area yang bernamakan Perguruan Tinggi.

Sekumpulan remaja ini memiliki beberapa aspek fundamental dalam dirinya. Beberapa di antaranya seperti aspek fisik, psikologis, dan sosio-religius. Ketiga aspek ini memiliki keutamaan isi masing-masing. Misalnya aspek fisik keutamaan isinya yaitu berporos pada kematangan fisik dan kesiapan bereproduksi. Aspek psikologis keutamaan isinya bertumpu pada di antaranya, dapat berfikir logis-realistis, dapat memecahkan masalah secara mandiri, memiliki kestabilan emosi, memiliki sense of reality, dan bersikap optimis. Sedangkan pada aspek sosio-religius keutamaan isinya bergerak pada sense of responsibility, komitmen terhadap nilai agama, memiliki kesiapan untuk bekerja, dan aktif dalam kehidupan sosial.

Pada dasarnya juga seorang remaja memiliki seabrek masalah yang dihadapinya setiap hari. Beberapa masalah yang acap kali muncul yakni seperti masalah kemandirian, pemilihan karir, pernikahan, pengembangan pola hidup, kesepian, dan kekecewaan. Beberapa masalah inilah yang sedianya menghampiri hidup remaja di usianya.

Masalah yang terjadi di kehidupan remaja diiringi oleh faktor penyebab di dalamnya. Faktor-faktor yang dimaksud seperti beban tugas kuliah yang menumpuk, beban hidup keluarga, pemenuhan kebutuhan seks, kekurangsiapan mental untuk belajar, tuntutan penyelesaian kuliah tepat waktu, psikosomatis, overkompensasi, dan dekompensasi.

Dari fakta itulah oleh karenanya dinilai tepat jika bimbingan konseling diberikan kepada setiap remaja dalam hal ini mahasiswa yang membutuhkannya. Hal ini berguna untuk memberikan solusi dari masalah yang sedang dialami oleh mahasiswa itu sendiri.

Dalam memberikan bimbingan konseling, seorang konselor pada prosesnya mengakomodir segala bentuk permasalahan dengan senjata komunikasi yang jitu. Komunikasi yang jitu di sini seringkali diterapkan oleh seorang konselor demi memperlancar dan memperindah gaya dialog dalam konselingnya.

Komunikasi yang jitu atau efektif di sini dapat terlaksana, apabila ada unsur-unsur komunikasi di dalamnya. Unsur-unsur komunikasi tersebut antara lain komunikator, pesan, komunikan, media dan efek.

Komunikator; pihak yang menyampaikan pesan baik itu verbal ataupun nonverbal. Pesan yang disampaikan komunikator bisa langsung secara perorangan (interpersonal), bisa pula dalam suatu rapat/pertemuan (small group atau public communication), dan bisa pula melalui media massa (mass communication).

Pesan; sebagai penafsiran lambang atau stimuli. Sebagai suatu proses penafsiran sangat tergantung pada penjelasan psikologis tentang komunikasi manusia. Selain itu pesan mencerminkan keadaan internal individu yakni perilaku, dalam bentuk tertentu, suatu manifestasi yang mencuat keluar dari konsep kotak hitam tentang sikap, keyakinan, nilai, citra, emosi dan sebagainya.

Komunikan; sering disebut juga penerima pesan. Pihak yang menerima pesan dari komunikator. Posisi komunikan sangat strategis karena merupakan sasaran dari komunikasi. Oleh sebab itu, dalam komunikasi dikenal paradigma “kenalilah pihak lain”, artinya komunikator harus memahami kondisi komunikannya. Jika komunikannya memiliki ‘adat’ tertentu, maka komunikator hendaknya menyesuaikan diri dengan ‘adat’ tersebut.

Media; suatu alat ataupun sarana komunikasi yang digunakan oleh komunikator untuk menyampaikan pesannya kepada komunikan. Media tersebut bisa berbentuk cetak ataupun elektronik, seperti koran, majalah, radio, televisi, handphone dan internet.

Efek; efek komunikasi menyangkut penambahan wawasan, perubahan sikap, dan tindakan yang dihasilkan oleh proses komunikasi ialah terjadinya suatu perkosaan yang dilakukan seorang remaja terhadap rekannya setelah sang remaja menonton film televisi yang salah satu adegannya menggambarkan perkosaan.

Itulah unsur-unsur komunikasi yang harus ada dalam bimbinga konseling di dunia pendidikan khususnya di Perguruan Tinggi. Pada dasarnya bimbingan konseling ini sangat erat kaitannya dengan komunikasi. Hubungan keduanya bisa dianalogikan bagaikan tali layangan dan layangannya. Keduanya mendukung agar proses pengentasan masalah yang dialami oleh seorang klien dapat teratasi dengan baik dan tuntas.

Dengan adanya bimbingan konseling di Perguruan Tinggi mahasiswa yang ada di dalamnya dapat menyalurkan segala kegundahan, kecemasan, ketakutannya mengenai masalah-masalah yang dihadapinya. Dengan demikian cita-cita maupun obsesi mereka untuk membentuk karakter diri yang berkualitas di usianya dapat terwujud. Dan pada akhirnya kesuksesan akan menghampirinya. Entah itu sukses secara pribadi, sukses secara sosial, atau sukses secara akademik, atau mungkin akan sukses secara karir.

Penulis,

Mahasiswa Jurusan Dakwah Prodi KPI V,

Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi HMJ Dakwah

STAIN Pontianak.

Jl. Letjen Suprapto No. 19 Pontianak

Email: tianseptian66@yahoo.co.id

Mimpiku di Borneo

MIMPIKU DI BORNEO

Sunyi malam menyergap badan yang kaku ini. Sepuluh jari tangan hingga sepuluh jari kaki terasa berat untuk melangkah jauh jalan hidup ini. Rentetatan poros semu kehidupan memaksa aku berjalan dalam titian duri-duri tajam berbalut adonan kue lapis yang begitu nikmatnya. Seolah-olah kala duka menghampiri, perasaan senang, riang dan gembira menjemputku di persimpangan sudut kota anyar ini.

Terik matahari mulai meredupkan sinarnya. Hal itu bertanda cahaya bulan akan menggantikan tugas matahari yang mulai pagi tadi menemani aktivitasku. Tak hanya matahari yang berganti tugas dengan bulan, aku pun ikut berganti tugas, walaupun bergantinya tidak harus merubah wajahku ini. Tatkala malam tiba, poros aktivitas yang kujalani tak lagi sama seperti tadi siang. Kali ini aku lebih banyak memanfaatkan waktu untuk duduk santai sambil mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru di kelas tadi siang.

Ketika sedang asyik-asyiknya mengerjakan tugas, dari sudut kanan rumah terdengar teriakan insan yang tak lain adalah Ibuku sendiri. “Dit… Dit…., coba sebentar kamu kesini. Tolong bantu Ibu gorengin tempe dan tahu ini, tolong sebentar soalnya Ibu mau nelpon Bapak kamu.” Ujarnya.

Aku terdiam sejenak, lalu tanpa pikir panjang kulangkahkan kaki ini ke ruang dapur. Setelah sampai ke ruang dapur, Ibu bergegas memberikan penggorengan dan wajannya kepadaku. Tak lama kemudian Ibuku sibuk berburu handphone yang terletak tak jauh dari meja tamu. Sedangkan aku sendiri sibuk melayani percikan-percikan minyak goreng yang kadang meletus begitu saja.

“Assalamualaikum, halo Pak. Gimana kabarnya? Baik-baik saja bukan?” Suara Ibu terdengar lantang di telingaku yang sembari tadi masih menghayati nada gorengan tahu dan tempe. Ibu sedang menelpon Bapakku yang saat ini berada di Kalimantan Barat. Bapakku dipindah tugas ke pulau itu sejak 1 tahun yang lalu. Kini aku, Ibu, dan adik-adikku sendiri masih menetap di Surabaya, Jawa Timur. Ingin rasanya tinggal bersama Bapak di sana, tapi keinginan itu rasanya sulit diwujudkan, karena melihat kondisi keuangan keluarga yang terbilang masih semrawut alias kocar-kacir.

“Apa, Bapak ingin kita semua boyongan ke Kalimantan? Memang Bapak dapat uang dari mana untuk memboyong kita semua ke sana? Sudahlah Pak, gak usah lagian kita semua di sini merasa nyaman kok.”

Perkataan Ibu tadi menghenyakkan tanganku yang asyik menggoreng. Apa.. Bapak mau memboyong kita sekeluarga ke Kalimantan Barat? Ah gak mungkin uang dari mana coba? Pikirku sekejap.

“Ya udah, kalau Bapak memang bertekad untuk memboyong kita semua di sini ke Kalimantan Barat, ya alhamdulillah. Ya udah terima kasih banyak atas usaha yang Bapak lakukan ini, semoga Bapak di sana mendapat rezeki yang halal dan yang pasti semoga Bapak tetap sehat wal afiat. Amin. Assalamualaikum.”

Ketika mendengar bait-bait terakhir ucapan yang Ibu lontarkan itu, aku bergegas menghampiri Ibu untuk menanyakan segala hal yang diperbincangkan dengan Bapak tadi.

“Bu. Memang tadi Bapak ngomong apa sih? Kok kayaknya ada hal penting yang disampaikannya? Tanyaku.

“Begini Dit, tadi Bapakmu itu mau ngajak kita boyongan ke Kalimantan Barat. Pertama sih Ibu kira Bapakmu itu bercanda, eh gak taunya dia memang bertekad membawa kita ke sana. Tapi tentang kapan ke sananya, Ibu juga gak tahu, yang pasti Bapakmu itu sedang berusaha dalam jangka waktu dekat ini.” Jawabnya.

Mendengar jawaban Ibu yang singkat tapi padat itu, aku pun seakan terbang di atas langit yang tinggi. Aku merasa keinginan yang terpendam sejak lama itu, tidak lama lagi akan terwujud.

Malam itu sejenak menjadi moment rajutan mimpi yang selama ini hinggap dalam memori kehidupanku. Dentuman lonceng yang berbunyi setiap jamnya, laksana mewarnai detik-detik malamku saat itu menjadi berarti. Tak ayal ketika dengkuran insan yang berlabuh mengarungi mimpi indah, menjadi penutup karangan bunga serampai untuk hari ini. Terima kasih ya Allah.

*********************************************

Pagi datang tepat pada waktunya. Suara adzan yang berkumandang sebelumnya menjadi pembuka hari ini. Iringan suara merdu kokokan ayam yang bersahutan, seakan memberi daya tarik hari ini lebih mempesona dibandingkan hari-hari yang lalu.

Pagi itu aku bersiap untuk pergi ke sekolah di mana aku menimbah ilmu. SMA 12 September Surabaya, aku duduk di kelas 3 IPS. Di sekolah inilah aku dididik untuk menjadi orang yang berguna bagi khalayak ramai kelak. Selain itu di tempat inilah aku memiliki seorang gadis yang selalu menyayangiku di setiap waktu. Namanya Intan, gadis cantik yang telah lama kukenal sejak pertama kali aku masuk ke sekolah ini. Anaknya sangat perhatian padaku. Walaupun parasnya cantik, dia tidak memperlihatkan kecantikannya itu pada semua orang. Hal itu yang membuatku betah berada dalam status pacar bagi dia.

Seperti biasa pagi itu Intan menghampiriku yang sejak tadi sedang termenung memikirkan perbincangan Bapak dan Ibu tadi malam.

“Selamat pagi Raditku sayang. Kenapa kok kayaknya kurang bergairah pagi ini? Belum makan ya? Kalau gitu yuk kita makan di kantin, biar entar Intan yang bayarin deh.” Ujarnya.

Aku yang tadinya termenung, seketika kaget tatkala Intan merangkul pundakku. “Eh Intan, ngg…ng…ngak kok gak ada apa-apa. O iya gimana tentang lomba cerdas cermat kemarin, apa kamu sukses dapat juara satu?” Tanyaku untuk mengalihkan pembicaraan.

“Kamu kenapa sih, ditanya ini malah nanya hal lainnya ke aku. Kamu gak percaya ke aku ya? Aku kan sekarang pacar kamu. Masa’ sih pacar gak boleh tau masalah yang dihadapi kekasihnya? Coba dong cerita, mungkin nanti aku bisa bantu.” Ungkapnya.

“Begini tan. Tadi malam aku mendengar percakapan Ibu dan Bapakku di telepon. Dari percakapan itu tersiar kabar bahwa aku dan keluarga dalam jangka waktu dekat ini akan boyongan ke Kalimantan Barat. Aku sedih jika harus meninggalkan kamu dan semua teman-teman di sini.” Ucapku.

“O begitu toh masalahnya. Gini Dit kamu seharusnya bersyukur diberi kesempatan oleh Allah untuk menjalani hidup ini dengan berpetualang. Berpetualang dalam artian kamu bisa mencicipi suasana hidup tidak hanya pada satu tempat saja. Mungkin Allah memiliki kehendak lain, bisa saja di sana kamu menjadi orang sukses dan terkenal. Amin.” Ungkap Intan sambil menahan tangis.

“Intan sungguh aku sangat bersyukur bisa mengenalmu, karena hingga detik ini kau selalu ada jika aku dililit suatu masalah. Kalau boleh aku berucap, kau adalah perhiasanku yang tak akan pernah lenyap dalam hatiku selamanya.” Ujarku seraya menghapus kening Intan yang sembari tadi bercucuran air mata.

Seketika bel pun berbunyi. Dengan perasaan gundah aku raih tangan Intan, lalu kuantarkan dia ke depan kelasnya. Kemudian aku pun bergegas masuk ke kelasku untuk menerima pelajaran Antropologi. Perasaan gundah tadi masih tetap terngiang di benakku. Aku tak tahan menahan kesedihanku jika harus meninggalkan Intan. “Ya Allah…. Berikanlah aku kekuatan untuk menghadapi kenyataan ini.” Ucapku lirih.

“Ass….salamualaikum!!!” Suara guru Antropologi yang tegas menghentikan khidmatku.

“Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh” Ucap anak-anak di kelas serentak menjawab salam yang tegas tadi.

“Hari ini Bapak tidak akan membahas tentang masalah yang ada di Antropologi, karena hal ini Bapak lakukan agar memberikan waktu kalian untuk rehat sejenak setelah dua minggu yang lalu kalian telah bersusah payah untuk mengikuti ujian dengan sepenuhnya.” Tandasnya.

Mendengar pernyataan guru Antropologi tadi, suasana kelas ricuh seketika dengan bermacam-macam teriakan. Ada yang berteriak sambil loncat-loncat kecil di atas lantai, dan ada juga berteriak sambil bertepuk tangan. Aku sendiri hanya sedikit mengeluarkan senyum. Tidak banyak tingkah laku yang kuperagakan menyambut waktu rehat yang diberikan oleh guru Antropologi itu, karena aku masih teringat dengan tangisan seduh yang keluar dari air mata Intan tadi sebelum masuk kelas.

“Tapi kalian jangan senang dulu. Bapak bukan tidak akan menjelaskan sama sekali tentang pembahasan kita kali ini. Ada suatu bahasan yang akan coba bahas pada pertemuan kali ini. Tapi pembahasan itu tidak terlalu fokus kepada pelajaran kita hari ini yakni Antropologi. Pembahasan itu berkenaan dengan beberapa etnis yang ada di Kalimantan Barat.” Ucapnya.

Berbicara tentang hal itu, aku tadinya acuh tak acuh dengan segala ucapan yang dilontarkan oleh guruku itu, kemudian berbalik untuk memperhatikan segala apa yang guruku bahas pada hari itu.

“Kalimantan Barat itu salah satunya terkenal dengan banyaknya etnis yang ada di daerah tersebut. Sebut saja seperti etnis Tionghoa, Jawa, Melayu, Madura, Bugis dan masih banyak lagi yang lainnya.” Ungkap guruku di sela-sela pembahasannya.

Setelah mendengar pembahasan dari guruku itu, kemudian aku pun semangat untuk bertanya mengenai etnis yang ada di Kalimantan Barat. Karena pembahasan kali ini menyangkut daerah baru yang akan kutempati, dan mudah-mudahan menjadi ladang berpijak untukku dalam mencari rizeki dan meraih kesuksesan kelak. Amin..

“Mungkin cukup sampai di sini. Ada yang mau ditanyakan?” Ucap guruku memberikan alokasi waktu untuk siapa saja yang ingin bertanya.

“Saya Pak.” Tukasku.

“Ya silahkan Radit.” Ucap guruku mempersilahkan aku bertanya.

“Begini Pak…. Bagimana sih suasana di sana? Orangnya baik-baik gak Pak? Trus apa di sana banyak orang Cina, gak gini tadi soalnya bapak ada bilang kalo di antara etnis yang ada di Kalimantan Barat itu salah satu di antaranya ada etnis Tionghoa. Tionghoa itu kan bahasa Cina, jadi make’ bahasa itu berarti orang Cina juga kan? Makasih atas kesempatannya.” Tanyaku.

“Dit, kamu mau nanya’ atau mau cari cewek di sana? Mentang-mentang ada orang Cina di sana… tau aja kamu Dit….Dit…” Ucap guruku dengan gurauan khasnya.

“Hu…….. tobat Dit, tobat Dit….” Ucap kawan sekelas dengan serempak.

Asal tahu saja guruku yang satu ini namanya Pak Sarlito. Dia dalam mengajar memang memiliki sifat kedisiplinan yang tinggi, namun dari kedisiplinannya itu terselip suatu sifat yang selalu disenangi oleh sebagian besar muridnya yakni selalu enjoy dan humoris kapanpun dan dimanapun. Oleh karenanya di setiap mengajar, tak jarang jika anak didiknya menjadi sasaran guyonan dia.

“Gini Dit…. Kalau untuk suasana di Kalimantan Barat, Bapak gak tau pasti. Karena Bapak belum pernah ke sana sih… Cuma yang pasti beberapa etnis yang ada di Kalimantan Barat itu hidup berdampingan antara etnis yang satu dengan etnis lainnya. Kalau tentang apakah orang di sana baik-baik atau tidak… ya tergantung gimana kita bersosialisasi dengan mereka. Jika kita bersosialisasinya dengan mereka baik dan sopan, insyaallah mereka juga akan bersikap baik pada kita, namun apabila kita bersikap tidak baik kepada mereka, ya hati-hati aja kamu…. Untuk pertanyaan terakhir itu ya pasti lah… Masa’ udah ada etnis Tionghoa, gak banyak orang Cinanya….ya pasti banyak lah Dit…” Ungkap guruku menjawab seluruh pertanyaanku.

Aku yang mendengar setiap perkataan yang diucapkan oleh guruku tadi, terasa masih ingin sekali bertanya tentang hal yang berkaitan dengan Kalimantan Barat. Namun karena kawan-kawan kelas sudah tidak sabar lagi untuk pulang sekolah, ya pertanyaanku itu kusimpan dan kutahan dahulu, demi menjaga kepentingan bersama.

“Ya demikianlah pembahasan kita kali ini, semoga apa yang kita bahas hari ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin…amin ya rabbal alamin.” Ucap guruku seraya menutup pelajaran hari ini.

Setelah keluar dari kelas, aku sempat berpikir kembali akan pembahasan yang dibahas oleh Bapak Sarlito tadi. Terbesit di pikiranku, apakah pembahasan yang tadi diperbincangkan di kelas, merupakan tanda jika aku akan bermukim dengan jangka waktu yang sangat lama. Tapi sudahlah semoga hari ini memberikan petunjuk bagiku agar nantinya selalu siap untuk menghadapi segala persoalan ataupun cobaan ketika berada di Kalimantan Barat.

Dengan asa pasti, kulangkahkan kakiku untuk segera pergi meninggalkan sekolah yang nantinya akan menjadi salah satu memori manis perjalanan hidupku untuk selamanya.

“Assalamualaikum… Radit pulang Bu….” Ucapku memberi salam kepada Ibuku yang sedang membersihkan kaca rumah.

“Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh, duh anakku yang manis, udah pulang ya? Gimana sekolahnya?” Tukas Ibuku yang dengan setia selalu menanyakan hal itu saja setiap aku pulang dari sekolah.

“Alhamdulillah kok Bu seperti biasanya.” Jawabku singkat.

“Oh gitu ya… ya udah kalo gitu. Sekarang mendingan Radit shalat dhuhur, lalu setelah itu baru makan. Itu Ibu udah buat masakan kesukaan kamu, apa lagi kalau bukan soto pedas.” Tandasnya.

Mendengar bahwa Ibu memasak makanan kesukaanku, aku pun semangat lagi untuk melanjutkan aktivitasku yakni shalat dhuhur, lalu kemudian makan siang.

Usai melaksanakan kewajibanku sebagai umat Muslim yang melaksanakan shalat lima waktu, aku pun melanjutkan aktivitasku yang selanjutnya yaitu makan siang. Makan siang kali ini terasa berbeda bagiku. Bukan karena masakannya yang menjadi kesukaanku, melainkan ada topik pembicaraan yang akan kusampaikan kepada Ibuku.

“Tuh sotonya kalau bisa habiskan. Trus jangan lupa nasinya juga dimakan.” Ucap Ibuku.

“Ya Bu… jangan kuatir pasti habis kok sotonya, pokoknya tenang aja deh.” Kataku dengan penuh semangat.

“O ya Bu, Radit hampir lupa, ada yang mau Radit bicarakan malam ini.” Ucapku.

“Ngomong ae, sapuas-puase ngomong, orapopo kok.” Ucap Ibuku dengan menggunakan bahasa Jawa yang tidak terlalu medok sekali.

“Gini Bu, tadi waktu di sekolah Radit dijel.” Belum sempat aku melanjutkan perkataanku, Ibuku memotong pembicaraanku dengan cepat sekali.

“Tunggu dulu, tadi kamu bilang di sekolahan sama seperti hari biasanya, ora’ ono opo-opo? Lah saiki malah ngomongin tentang sekolah. Ya opo Dit…Dit…” Tukas Ibuku dengan bahasa jawanya yang dicampur-campur, biasalah arek Suroboyo gitu loh.

“Ya deh Radit minta maaf, abisnya tadi tu Radit lagi males n capek setelah seharian nerima pelajaran terus.” Ucapku.

“Yo wis, saiki opo se nak kowe omongin?” Ibuku memaafkanku dan seketika juga menyuruhku untuk melanjutkan pembicaraan yang tadi sempat terputus.

“Gini Bu, tadi tuh di kelas Pak Salito guru Antropologiku itu menjelaskan tentang beberapa etnis yang ada di Kalimantan Barat. Kata dia tadi, Kalimantan Barat itu banyak diisi oleh beberapa etnis, seperti etnis Tionghoa, Batak, Jawa, Madura, Melayu, Bugis dan masih banyak lagi etnis-etnis lainnya. Gini Bu Radit sudah gak sabar lagi nih, ingin rasanya mencicipi nikmatnya hidup berdampingan dengan banyaknya etnis yang ada di sana. Radit yakin jika kelak kita berhijrah ke sana, pasti banyak sekali pengalaman demi pengalaman yang akan kita dapatkan nantinya.” Ungkapku kepada Ibu yang sedari tadi masih asyik menyantap makanan soto buatannya.

“Bu…Ibu gak dengar Radit bicara ya? Sepertinya Ibu asyik aja menyantap makanan tanpa memerhatikan Radit yang sedang bicara.” Ucapku agak kesal.

“E.. kata siapa Ibumu ini gak dengar anaknya bicara. Ya Ibu dengarlah Dit, iya Ibu juga setuju dengan kamu. Sekarang aja Ibu lagi mikirin gimana kalo nantinya kita jadi hijrah ke Kalimantan Barat. Ibu juga yakin kalau di sana nanti Ibu akan memiliki banyak saudara-saudara baru yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda.” Ungkap Ibu dengan penuh semangat.

“Ya udah Bu, moga-moga aja kita akan jadi hijrahnya. Ya walaupun nantinya misal kita gak jadi hijrah, ya juga gak apa-apa. Toh kita juga masih betah tinggal di sini.” Tandasku.

“Ya Ibu juga berharap demikian. Semoga aja Bapakmu berhasil ngumpulin duit ya Dit. O ya kalo udah makannya kita doakan Bapakmu ya, moga di sana ia sehat wal afiat dan juga senantiasa dilindungi oleh Allah SWT. Amin.” Ucap Ibuku sembari menaruh piring yang kotor ke tempat cuci piring.

“Bu, Radit udah selesai makannya. Yuk kita sama-sama memanjatkan do’a kepada Allah SWT, agar Bapak di sana diberikan kesehatan dan dipermudahkan rizekinya. Ilahadratinnabi mustofa sallawwaaliahi wasallam al-fatihah.” Panjatku dengan khidmat.

Cahaya matahari terus menampakkan sinarnya. Awan-awan pun kalah pamor akan teriknya. Siang itu setelah menyantap makanan kesukaanku, aku pun duduk di teras depan sambil melihat pemandangan luar yang asri dengan bunga-bunga yang tertanam di halaman depan.

“O ya Bu, dari tadi Radit gak ngeliat Arman nongol di rumah, ke mana ya dia?” Tanyaku.

“O si Arman adikmu itu, emang sejak pulang sekolah tadi dia pergi ke rumah temannya. Bilangnya sih katanya mau ngerjain tugas kelompok.” Jawab Ibu dengan tenang.

“O gitu ya. Awas tu Bu, anak kayak si Arman itu perlu dinasehatin dan diberikan informasi tentang kenakalan remaja saat ini. Bukannya Radit iri, tapi Radit cuma mau ingatkan kalau zaman sekarang pergaulan itu sudah bebas, seena’e dewe.” Ungkapku mengingatkan Ibu untuk selalu mengontrol adikku si Arman yang saat ini telah duduk di bangku kelas 1 SMA.

“Iyo Dit. Ibu juga sempat nasehatin dia kok, tapi Ibu percaya sekali ama adikmu itu. Dia itu anaknya penurut, gak banyak tingkah dan sopan lagi sama semua orang. Ibu suka deh punya dua anak yang semuanya penurut dan patuh sama orangtua. Mmmuah.” Ucap Ibuku dan seketika langsung mencium dahiku.

*******************************************

Hari ini akan terasa nikmat jika dapat berkumpul secara utuh dengan keluarga. Tapi kenikmatan itu tidak akan dapat diperoleh untuk hari ini. Masih ada beberapa hari, bulan atau bisa juga tahun. Namun asa tetap di jiwa. Semoga impian untuk berkumpul secara utuh dengan keluarga dapat terwujud secepatnya. Amin…

Matahari telah beranjak dari tugasnya kala itu, kini saatnya bulan yang akan menggantikan tugas matahari untuk selalu menerangi sunyi malam yang indah nan ceria ditemani kelap-kelip bintang yang berkilauan.

Malam itu aku memang sengaja untuk tidur lebih awal, karena besok paginya aku harus pergi ke sekolah lebih awal. Aku tidak mau terus-terusan terlambat dan selalu di hukum dengan petugas satpam sekolah.

“Dit kalau mau tidur jangan lupa baju dan celana seragam sekolah kamu dipersiapkan di meja belajar. Biar besok gak repot-repot lagi nyarinya.” Ibuku mengingatkanku agar mempersiapkan seragam sekolah untuk esok hari.

“Iya Bu. Radit pun sekarang lagi nyari baju dan celananya nih di lemari.” Ucapku menjawab perkataan Ibu.

Setelah mencari beberapa lama baju dan celana seragam sekolah. Akhirnya kutemukan juga baju dan celana seragam tersebut. Usai menemukan baju dan celana seragam tersebut, kemudian kutaruh itu semua di atas meja belajar milikku. Lalu dengan mata yang mulai sempoyongan akibat mengantuk, seketika kurebahkan tubuh di atas kasur yang empuk. Dengan mata yang masih terbuka, aku berdo’a dan meminta kepada-Nya agar diberi petunjuk tentang kota anyar yang insyaallah akan kutempati.

Entah mengapa setelah beberapa lama aku tidur dengan nikmatnya, lalu aku bermimpi. Dalam mimpiku itu, aku dihadapkan pada suasana yang tak pernah kulihat sebelumnya. Rumah-rumah adat dari berbagai daerah berjejeran, lalu masyarakat yang berlalu-lalang di jalan, wajah-wajahnya seperti tidak pernah kulihat sebelumnya. Di antara wajah-wajah yang kulihat dalam mimpiku itu, ada sosok wanita berparas cantik yang hampir mirip dengan Intan kekasihku. Namun ada satu hal yang membedakan Intan dengan wanita yang kulihat dalam mimpiku itu yakni dia mengenakan jilbab putih yang bersinar. Subhanallah.

“Dit, Dit.. bangun tuh dah subuh. Sana ambil wudhu’ trus shalat langsung jangan sampai tidur lagi.” Seketika Ibuku membangunkanku dan sekaligus membuyarkan seluruh mimpi indahku.

“Ha, apa Bu, mana gadis berjilbab tadi. Tadi dia perasaan di sini kok.” Kataku.

“Udah jangan mimpi lagi. Pake’ gadis berjilbab segala lagi. Mang kamu mimpi apa semalam?” Tanya Ibu.

“Ha mimpi... perasaan tadi gadis berjilbab itu datang menghampiriku kok.” Jawabku.

“Ya terserah kamulah mau mimpi apaan. Yang penting sekarang kamu mandi trus shalat, lalu setelah itu bersiap-siap untuk berangkat sekolah.” Tandas Ibuku menyuruhku untuk kedua kalinya.

Setelah mendengar perintah Ibu itu, kemudian aku beranjak dari tempat tidur, lalu membersihkan badan dan dilanjutkan dengan melaksanakan shalat shubuh. Usai melaksanakan shalat shubuh, kemudian kubergegas memakai baju seragam sekolah dan tak lama kemudian berpamitan pada Ibu untuk berangkat sekolah.

**************************************************

Pagi itu suasana sekolah masih sepi. Tidak ada satu siswa pun yang telah berada di sekolah. Yang ada hanyalah tukang bersih sekolah. Pada saat itu waktu menunjukkan pukul 06.00 pagi. Memang waktu yang masih terlalu pagi untuk para siswa dan siswi SMA. Biasanya mereka paling cepat datangnya ke sekolah sekitar pukul 06.30. dan bagi yang keseringan terlambat mungkin bisa sampai hingga pukul 07.30.

Untuk menghilangkan rasa sepi di kelas sendirian, aku mencoba mengingatkan kembali tentang mimpi indahku tadi malam. Sungguh mungkin itulah mimpi paling indah dari mimpi-mimpi yang sebelumnya pernah kulihat. Dan yang paling aku terkesima dalam mimpi itu yakni kala melihat sosok gadis berjilabab putib bersinar yang menghampiriku. Sungguh gadis itu sangat cantik dan mempesona.

Ketika aku asik merenung akan arti mimpi itu, lalu ada seseorang yang menghentakkan tangannya ke pudakku. Aku terkejut kala melihat seseorang di balik tubuhku. Ya, seseorang itu adalah Intan kekasihku.

“Eh Intan, tumben berangkatnya kok pagi bener. Gimana kemarin gak nangis lagi kan?” Ucapku seraya memberikan pertanyaan pada Intan.

“Oh yang kemarin toh.. gak kok, Intan gak nangis lagi. Gini, Intan datang pagi-pagi karena hanya ingin ketemu ama kamu. Intan tau kalo kamu pasti hari ini datangnya pagi.” Ucap Intan seraya tersenyum.

“Loh kamu kok tau kalo aku mau datang sekolah pagi-pagi sekali?” Tanyaku.

“Ya iyalah Intan gitu loh… Intan tau alasan kamu berangkat pagi sekali ke sekolah. Kamu takut di hokum lagi kan, gara-gara terlambat ke sekolah terus.” Ucap Intan penuh percaya diri.

“Ya Tan. Aku jadi malu nih. Iya gini selain karena aku gak mau kena hokum terus gara-gara terlambat, ada hal lain yang juga membuatku untuk datang pagi sekali ke sekolah. Aku ingin akhir kenangan manisku di sekolah ini berakhir dengan khusnul khotimah.” Ungkapku.

“Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu nyatanya. Berarti aku tak salah memilihmu sebagai kekasihku.” Ucap Intan seraya memandang wajahku.

Biarkan aku menjaga perasaan ini, hoo… menjaga segenap cinta yang telah kau beri…. Seketika itu nada sambung pribadi (NSP)-ku berbunyi. Tanpa pikir panjang kuambil handphoneku dari kocek celana. Betapa kagetnya setelah kulihat layar handphone terpampang nama Ibuku memanggil.

“Assalamualaikum Bu. Ada apa ya Ibu nelpon Radit?” Tanyaku.

“Ini lho Dit, tadi Bapakmu nelpon, katanya kita boyongannya besok ke Kalimantan Barat.” Jawabnya.

Sekejap aku kaget bukan kepalang. Pasalnya baru kemarin Bapak nelpon untuk membicarakan rencana boyonganku sekeluarga. Tapi kenapa begitu cepatnya….. apa aku sedang bermimpi. Pikirku.

“Apa Ibu bilang. Besok? Apa gak bisa ditunda lagi?” Tanyaku. Tak sempat kuberbicara lagi handphone Ibuku terputus. Entah apa karena pulsanya habis, ataukah Ibu memang sengaja mematikannya agar supreise. Sungguh seketika itu pula aku bercakap sambil memandang Intan yang sejak tadi mengeluarkan air mata.

“Intan, nanti jika aku sudah tinggal di Kalimantan, aku akan menyediakan setengah hatiku hanya untukmu. Ingat hanya untukmu.” Ujarku seraya memeluk Intan.

Tak lama bel pun berdering, pertanda bahwa saatnya masuk kelas. Saat itu pula Intan memberi sebuah gantungan kunci yang bertuliskan nama Intan. “Radit.. gantungan kunci ini merupakan tanda jodoh bagi siapa pun yang memilikinya. Nanti jika di sana kamu melihat ada seorang gadis yang memiliki sama persis dengan gantungan kunci ini, maka itulah cinta dan jodoh yang kamu cari.” Ujarnya seraya meninggalkanku dari hiruk-pikuk para murid yang hendak masuk ke kelasnya masing-masing.

***************************************

Bumi berjalan sesuai porosnya. Tatkala singgah diperpangkuan sinar matahari, berarti munculnya pagi dan siang. Sebaliknya tatkala singgah dibawah kuasaan lokasi bulan, hal itu berarti datang waktu malam. Selanjutnya malam bersiap kembali menanti datangnya matahari untuk menggantikan posisinya kala itu.

“Dit… nanti kalau naik kapal laut jangan kemana-mana ya. Ibu minta tolong adiknya dijaga, jangan sampai keluar dari dek kapal.” Ujar Ibu menasehatiku.

“Iya Bu… insyaallah nanti Radit berusaha semaksimal mungkin, agar adik gak keluar dari dek kapal. Pokoknya tenanglah serahkan saja semua ke Radit anak lelakimu ini.” Tandasku.

Perjalanan menuju Kalimantan Barat, kami lalui dengan memakai jasa kapal laut. Menurut cerita dari orang-orang yang pernah berlabuh ke Kalimantan Barat, waktu perjalanan dari Surabaya ke Kalimantan Barat sekitar 2 hari 2 malam. Oleh karena itu, aku beserta Ibu dan adik-adikku telah menyiapkan persediaan makanan yang cukup untuk jangka waktu tersebut.

Dalam perjalanan yang memakan waktu lumayan lama itu, kadangkala aku menangis sendiri. Hati ini tak kuasa memendam rasa sedih beraduk gembira. Aku sedih karena harus meninggalkan Intan dan semua teman-teman yang ada di Surabaya. Dan sebaliknya, aku gembira karena di Kalimantan Barat nanti akan banyak pengalaman-pengalaman baru, teman baru, sekolah baru, intinya semuanya serba baru.

“Kak Radit tolong temenin Arman dong.” Adikku memecah lamunanku.

“Iya Dik, emang Adik mau kemana?” Tanyaku singkat.

“Arman mau beli kacang dan air minum. Air minum kita udah habis kak. Ayo cepetan kak!” Tegasnya.

Aku pun bergegas menyusul Adikku yang telah terlebih dahulu menuju kabin kantin kapal.

Sinar kuning bercampur aduk dengan kilauan warna merah merona. Awan putih tebal terkikis sedikit demi sedikit hingga menyisakan balutan laksana kapas digulung. Tiupan angin keroncong berubah menjadi hembusan irama melodi dangdut yang aduhai nikmatnya. Terima kasih ya Allah.

“Dit, besok pagi insyaallah kita udah nyampai di pelabuhan Kalimantan Barat. Jadi malam ini tolong bantu Ibu untuk mempersiapkan dan membenahi semua barang bawaan kita. Diusahakan jangan sampai ada yang tercecer ya Dit.” Ucap Ibuku.

“Insyaallah Radit usahakan seoptimal mungkin agar tidak ada barang-barang kita yang tertinggal di kapal ini.” Ujarku dengan penuh percaya diri.

Nyamuk-nyamuk kecil berterbangan mencari darah segar di setiap pelandasannya. Darah-darah segar milik manusia yang tidur terlelap dicicipinya satu persatu. Malam itu nyamuk-nyamuk kenyang akibat menghisap darah murni dari sekumpulan insan yang terbuai indahnya mimpi.

************************************************

Sekumpulan anak-anak Adam tiba di tempat yang dituju. Panorama kalem menghiasi chassing kota berjuluk Khatulistiwa itu. Cagar alam yang masih murni terbumbu dalam paket spesial kota yang terkenal dengan beragam etnis dan budayanya itu.

Waktu menunjukkan pukul 07.00 pagi. Aku beserta Ibu dan adik-adikku sedang melihat pemandangan indah di jendela kapal. Dalam pemandangan itu telah banyak kapal-kapal nelayan yang ditepikan ke bibir laut. Dan yang paling menarik yakni banyak sekumpulan orang yang berlalu-lalang menjalankan aktivitasnya sambil mengendarai kapal kecil.

“Dit, alhamdulillah akhirnya kita sudah sampai di Kalimantan Barat. Sebentar lagi, mungkin sekitar 2 atau 3 menit lagi, kapal ini akan menepi.” Ungkap Ibu dengan semangatnya.

“Alhamdulillah ya Bu, akhirnya kita datang Kalimantan Barat!” Ucapku dengan teriakan yang lantang. Akibat dari teriakanku yang lantang tersebut, orang-orang yang ada di kapal memarahiku dan membentakku.

“Hey kalau bicara jangan nak teriak-teriak bocah!” Ujar salah seorang penumpang yang berada di dekatku.

“Iya Pak, maaf…maaf…maaf.” Ucapku sambil tersipu malu.

Tak lama ketika insiden memalukan itu usai. Ada salah seorang penumpang yang bertanya padaku. “Bang, Abang nak turun dimana? Di Pontianak ke? Atau di Sambas?” Tanyanya.

Aku yang masih trauma akan insiden memalukan itu, seketika merespon pertanyaan dari salah seorang penumpang kapal tadi. “Saya gak tau ya Mas, soalnya saya baru satu kali ini pergi ke Kalimantan Barat. Memang di Kalimantan Barat itu ada daerah apa aja ya Mas?” Jawabku sambil mengajukan balik pertanyaan.

“O Abang ini baru satu kali pergi ke Kalimantan Barat ya. Di Kalimantan Barat ini banyak sekali daerah-daerahnya, seperti Sintang, Sambas, Sanggau, Singkawang, Bengkayang, Pemangkat dan masih banyak lagi daerah-daerah lainnya. Tapi dari semua itu ada ibu kota provinsi Kalimantan Barat yaitu Pontianak.” Ujarnya.

Aku yang tadinya terfokus pada mimik pembicaraan salah seorang penumpang yang menjelaskan tentang daerah-daerah di Kalimantan Barat, seketika merubah haluan kepada Ibuku. “Bu, kata orang di sebelah kita itu, Kalimantan Barat memiliki banyak sekali daerah-daerah. Radit merasa bingung Bu, kita ini sebenarnya mau ke daerah mana?” Tanyaku.

“O gitu ya. Ya udah tenang aja, Ibu mau SMS Bapakmu dulu.” Jawab Ibuku seraya mengambil handphone yang ada di tas gandengnya.

Assalamualaikum, halo Bapak, sekarang Bapak ada dimana? Ibu dan anak-anak sebentar lagi ada di pintu keluar pelabuhan. Tolong Bapak jemput Ibu di sana ya.” Begitulah isi sms dari Ibu.

Ketika aku beserta Ibu dan adik-adikku turun dari kapal, tak lama kemudian handphone Ibuku berbunyi. “Waalaikumsalam. O sudah nyampai toh. Bapak sekarang ada di pintu luar pelabuhan. Bapak tunggu di sana ya. Awas hati-hati!” Begitulah jawaban singkat sms dari Bapak.

“Alhamdulillah, akhirnya kalian semua sampai dengan selamat.” Ucap Bapakku sambil memeluk kita semua. “Sekarang kita langsung pergi ke rumah dinas Bapak yang ada di Pontianak. Di rumah itu nanti kita akan tinggal.” Ucap Bapak sambil memasuki barang bawaan kami semua ke garasi mobil tua yang dipakainya.

Sesampainya di rumah dinas Bapak yang berdomisili di Jl. Alianyang No.32 itu, seolah-olah aku merasakan kenyamanan yang tak ada duanya, dibandingkan tempat tinggal yang kutempati sebelumnya. Suasana di sini begitu tenang. Walaupun terletak di pinggir kota, akan tetapi rasa nyaman menghinggapi di benak jiwa dan raga.

Tak usai aku mengagumi lokasi rumah dinas Bapak yang strategis dan nyaman, seketika Bapak memegang pundakku.

“Eh Dit, mulai besok kamu sekolah di SMAN 1 Pontianak. Di sekolah barumu itu nantinya kamu akan dapat teman baru, suasana baru, dan pastinya pengalaman baru.” Ujar Bapak.

“Masa’ sih Pak? Yang benar saja, aku kan baru saja menginjakkan kaki di Pontianak. Mana aku tahu jalan di setiap sudut kota Pontianak ini.” Ucapku sambil menggerutu.

“O masalah itu. Tenang Bapak sudah mempersiapkannya dari awal kok. Besok ada teman anak Bapak yang sekolahnya sama denganmu. Jadi besok pagi anaknya ke sini. Sekalian dia yang nanti akan antar pergi dan pulang kamu ke sekolah. Gimana?” Ujar bapak.

“Ya udah kalau gitu, terima kasih banyak ya Pak.” Ucapku seraya pergi meninggalkan Bapak.

Pagi hilang tanpa bekas kala malam beranjak tampil dalam kilauan warna kota yang baru saja aku nikmati. Mulai detik ini aku tinggal di kota anyar ini dengan teman dan suasana baru. Selamat datang Pontianak, aku menunggu keajaibanmu.

*******************************************

“Radit, ini kenalin, namanya Faishal. Dia anak dari teman bisnis Bapak di Pontianak. Dia ini yang nanti akan menjadi teman sekaligus sahabat kamu di sekolah yang baru.” Ungkap Bapakku.

“Kenalkan namaku Radit, pindahan dari SMA 12 September Surabaya, Jawa Timur. O namamu Faishal ya. Sebelumnya terima kasih banyak atas bantuan yang kamu berikan nantinya.” Ucapku.

“Sama-sama. Iya namaku Faishal, biasa sih ama teman-teman sering disebut Ichal.” Ungkapnya.

Waktu terus bergulir, perkenalanku dengan Faishal ditutup dengan menyalami orang tuaku, kemudian menaiki motor yang Faishal bawa. Dengan kecepatan yang cukup tinggi, Faishal mengendarai motornya dengan penuh kelihaian. Aku yang tidak terbiasa akan hal itu, lalu meminata kepada Faishal untuk mengurangi kecepatan laju motornya. Setelah Faishal mengurang kecepatan laju motornya, aku melihat ke sebelah kanan dan kiri jalan yang dilalui oleh kami berdua. “Sepertinya kota ini pernah ada dalam bayangan mimpiku.” Pikirku. Sungguh seakan tak percaya bahwa orang-orang yang kulihat di jalan pun persis sekali dengan apa yang kulihat dalam mimpiku. Adapun rumah-rumah adat berjejeran. Ketika aku keasyikan melihat suasana di Kota Pontianak, lalu tak lama berselang, kami berdua tiba di sekolah tepat pada waktunya.

Hari ini pertama kalinya aku masuk kelas yang baru. Di kelas inilah aku membuat sejarah baru mengenai pendidikanku. Dan dari sekolah baru ini pula, insyaallah aku akan menemukan seorang gadis yang memiliki gantungan kunci sama persis dengan milik Intan.

“Baiklah anak-anak, hari ini kita kedatangan teman baru pindahan dari SMA 12 September Surabaya, Jawa Timur.” Ucap seorang guru yang berdiri tegak di sampingku. “Ya Saudara Radit silahkan memperkenalkan diri.” Lanjutnya mempersilahkanku untuk segera mengenalkan diri di depan siswa-siswi yang ada di kelas tersebut.

“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Namaku Radit Aditya Nugraha. Dipanggilnya Radit. Aku pindahan dari SMA 12 September Surabaya, Jawa Timur. Saat ini aku tinggal di Jl. Alianyang No.32, Pontianak. Di Pontianak ini aku tinggal dengan kedua orang tua beserta adik-adikku. Mungkin itu saja yang dapat kuperkenalkan. Cukup sekian terima kasih. Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.” Ujarku singkat.

“Ya itulah tadi teman baru kita yang bernama Radit Aditya Nugraha. Mungkin sampai di sini ada yang ingin bertanya tentang Radit, dipersilahkan.” Jelas guru yang sembari tadi ada di sampingku.

Seraya menunggu pertanyaan yang akan mengalir padaku. Aku pun sibuk memandang wajah-wajah unik dari teman-teman sekelas. Mengapa dibilang unik? Karena banyak sekali wajah-wajah yang tak pernah kulihat sebelumnya. Di antara mereka ada yang berwajah tampan layaknya model, ada yang cantik seperti artis, ada juga yang mirip dengan Tukul Arwana, akan tetapi dari semua wajah yang telah kupandangi itu, ada satu wajah yang seolah-olah mirip sekali dengan paras Intan dan gadis berjilbab putih bersinar yang pernah ada dalam mimpiku. “Ya Allah apakah ini adalah mimpi lagi yang kau berikan kepadaku?” Ucapku yang dari tadi menatap dengan begitu lama gadis berjilbab putih yang ada di kursi paling belakang sebelah kanan kelas.

“Eh ngomong-ngomong nih apa kamu udah punya pacar?” Ungkap salah satu siswi yang ada di kelas itu. Aku yang sembari tadi terpaku pada sosok gadis berjilbab yang ada di sudut kanan kelas, seketika kaget dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh salah seorang siswi yang ada di sudut kiri kelas.

“A..apa, be..belum kok, belum punya.” Ucapku tegang.

“Apa-apaan kamu ini, coba kalau nanya jangan yang begituan.” Ujar guru di sampingku, sambil memarahi siswi yang bertanya tadi. Tepat ketika guru memarahi siswi tersebut, terdengar bahakan siswa-siswi yang membuat suasana di dalam kelas semakin ribut.

**************************************

Mentari pagi membumbui senyumku yang sejak kemarin merona tanpa henti-hentinya. Lesung pipit bergerilya membentuk paras wajah, seolah-olah semakin mengukuhkan bahwa hari ini adalah hari kebahagiaan penuh cinta bagiku.

Hari ini adalah hari kedua aku masuk kelas. Setelah kemarin telah menjadi momentum yang tak akan pernah kulupakan untuk selama-lamanya. Terbesit dalam pikiranku, akankah hari ini aku menemukan gadis yang memiliki gantungan kunci sama persis dengan milik Intan?

“Anak-anak kita lanjutkan pelajarannya besok. Sampai di sini saja pelajaran kita, dan akhirnya Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.” Ucap guru matematika mengakhiri pelajarannya.

Tak lama berselang bel pun berbunyi. Itu tandanya jam istirahat. Semua siswa-siswi di kelasku berbondong-bondong memenuhi kantin di sebelah kanan parkiran sekolah. Sedangkan aku dan Faishal masih enak saja duduk di bangku masing-masing. “Dit, yuk pergi ke kantin. Kita hilangkan rasa stress dulu Dit. Capek nih.” Ungkap Faishal.

“Sudahlah pergi aja duluan sana.” Ucapku tegas.

“Ya udah kalau gak mau, aku pergi duluan ya.” Ucap Faishal seraya meninggalkan kelas.

Mataku menatap setiap sudut ruangan kelas. Kiraku mengenal lebih jauh suasana di dalam kelas. Namun setelah menoleh sedikit ke belakang. Sungguh begitu kagetnya, ketika gadis berjilbab yang mirip sekali dengan paras Intan dan gadis berjilbab yang ada dalam mimpiku itu sedang asyik membaca buku pelajaran.

Dengan tanpa ragu aku pun menghampirinya. “Ehm. Assalamualaikum Wr Wb. Kenalkan namaku Radit. Kalau boleh tahu namamu siapa?” Tanyaku.

“Waalaikumsalam. Namaku Aisyah. Sebelumnya maaf ya, aku harus pergi ke perpustakaan sekarang.” Tandasnya.

Dengan jalan yang tergesa-gesa, kemudian ia pergi begitu saja meninggalkanku sendiri di dalam kelas. Aku yang masih berada di sebelah bangku gadis berjilbab tersebut, secara tidak sengaja menemukan gantungan kunci yang bentuk dan gambarnya sama persis dengan kepunyaan Intan. Tanpa pikir panjang, aku bergegas menyusul gadis berjilbab itu.

Tak sampai di perpustakaan gadis berjilbab itu kembali. Mungkin ia melupakan gantungan kuncinya yang saat ini berada di tanganku.

“Aisyah apa ini yang kamu cari?” Tanyaku lugas seraya memberikan gantungan kunci itu kepada Aisyah.

“Iya betul itu yang kucari. Makasih ya telah menemukannya.” Jawabnya singkat.

“Sama-sama. O ya tadi kita kan masih belum sempat selesai perkenalannya. Gimana kalau kita lanjutkan. Aisyah gak terlalu sibuk kan? Bagaimana kalau perkenalannya sambil kita minum es kopyor di kantin?” Tawarku kepada Aisyah.

“Bbboleh…” Jawab Aisyah singkat.

“Terima kasih banyak.” Kataku.

Seakan-akan tak mau hilang kesempatan untuk dapat berbicara langsung dengan Aisyah, aku pun bergegas mengikuti arah jalan Aisyah untuk pergi ke kantin. Maklum ini adalah pertama kalinya aku mengitari lingkungan sekolahku yang baru. Jadi tidak heran jika yang menjadi komando jalan adalah Aisyah. Akhirnya setelah puas berjalan mengitari lingkungan sekolahku yang baru, aku dan Aisyah pun akhirnya sampai ke tujuan yakni kantin sekolah. Letak kantin sekolah di SMAN 1 Pontianak ini berada di belakang sekolah. Jadi pantas saja jika aku langsung meminta minum air putih sebagai penghilang dahaga.

“Aisyah kamu gak haus apa, padahal letak antara kantin dan kelas kita itu jauh banget. Kalau gak mau minum air putih silakan pesan apa saja yang Aisyah mau. Apa perlu Radit ambilin?” Ujarku dengan penuh perhatian.

“Gak usah repot-repot kok Dit, biar saja yang ambil sendiri.” Ucapnya.

“Ya udah kalo gitu. O ya ngomong-ngomong sekarang Aisyah di Pontianak tinggal dimana? Emang Aisyah asli orang Pontianak ya?” Ujarku memulai pembicaraan.

“Aisyah di Pontianak tinggal di Jl. Kobar, Gg. Kencana No.11. Aisyah sebenarnya bukan asli orang Pontianak, cuma tinggal di Pontianak ini sudah lumayan lama sekitar 6 tahun. Aisyah sendiri aslinya dari Sambas.” Ungkapnya.

“O aslinya dari Sambas ya. Emang Sambas tu dimana sih? Gak soalnya dulu waktu pas pelajaran Sejarah, ada guru yang sepintas mengatakan nama daerah Sambas, Kalimantan Barat.” Tanyaku dengan antusias.

“Sambas itu salah satu daerah yang ada di Kalimantan Barat. Letaknya lumayan cukup jauh dari sini. Sambas merupakan salah satu ikon berharga bagi Kalimantan Barat, karena di sana terdapat keraton Sambas yang terkenal itu.” Jawab Aisyah seraya menegukkan minuman the hangat yang dipesannya.

“O gitu ya. Selain Sambas kira-kira daerah mana lagi yang ada di Kalimantan Barat ini yang sangat menarik untuk dikunjungi?” Tanyaku kembali.

Ada satu daerah lagi yang tak kalah menariknya untuk dikunjungi ole seluruh wisatawan, baik itu wisatawan dalam negeri ataupun mancanegara. Daerah tersebut yakni Singkawang namanya. Di sana terdapat suatu wisata baharinya yang indah nan eksotis. Sekali-sekali maen lah ke Singkawang. Pokoknya dijamin betah deh berjemur di sana seharian. He…he...” Ujar Aisyah seraya diringi oleh ketawanya yang malu-malu.

“Ngapain hanya berjemur, sekalian aja dibakar badanya ampe’ gosong. Ha…ha…” Jawabku dengan guyonan sederhana.

“Hi…..hi…..hi…..betul juga ya kamu Dit.” Balas Aisyah dengan ketawa manisnya.

“O ya ngomong-ngomong nih. Gantungan kunci tadi itu asli punya milikmu ya?” Tanyaku.

“Iya. Memang ada apa?” Aisyah balik bertanya.

“Gak apa-apa kok. Cuma ngeliat gantungan kuncinya itu lucu banget, pas buat gadis berjilbab secantik kamu.” Ucapku memuji.

“Ah Radit bisa aja. Gak kok tadinya gantungan kunci ini sebelumnya bukan milikku, namun milik orang lain. Dan tadinya juga gantungan kunci ini tidak ada tulisan namanya seperti sekarang. Ada rahasia di balik gantungan kunci ini. Kata orang yang ngasihin gantungan kunci ini sih kalau ada seorang cowok yang memegang gantungan kunci yang serupa dengan kepunyaanku, maka dia adalah jodoh yang diberikan Tuhan kepadaku. Tapi menurutku itu semua adalah karangan atau dongeng semata. Jadi aku gak pernah percaya dengan yang demikian.” Ujarnya.

Mendengar pernyataan yang dilontarkan oleh Aisyah, aku pun serasa berada di atas langit. Aku pun berkata dalam hati “Ya Allah apakah ini adalah jawaban dari mimpi yang pernah kualami ketika malam itu?”

Walaupun pernyataan yang dilontarkan Aisyah mengenai gantungan kunci miliknya itu sama persis seperti apa yang diucapkan juga oleh Intan kala itu. Aku tidak serta merta mengungkapkan secara jujur jika aku adalah cowok yang juga memiliki gantungan kunci yang sama persis itu.

Namun dalam hatiku terbesit ucapan “Walaupun dalam detik ini dan jam ini aku tidak mengakui bahwa aku adalah cowok yang dimaksud itu, namun aku telah merasa bersyukur sekaligus bangga karena pertama, aku bersyukur atas mimpi indah yang diberikan oleh Allah SWT kepadaku dan aku juga bersyukur dapat melihat mimpi itu di dunia nyata. Kedua, aku bangga karena dapat menjadi salah satu bagian dari Provinsi Kalimantan Barat atau yang memiliki julukan Borneo. Semoga dengan adanya aku di sini setidaknya dapat memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi seluruh masyarakat di Kalimantan Barat pada umumnya dan aku sendiri serta seluruh keluargaku khususnya. Amin…

Pontianak, 26 Mei 2008

* Tulisan ini telah terbit di buku berjudul “Mimpi Di Borneo” Cet: STAIN Press 2009.

MY PROFILE

Nama lengkapnya Septian Utut Sugiatno. Lahir di Sumenep 12 September 1988. sejak mudanya ia selalu gemar dengan namanya aktivitas yang padat. Saat jenjang Sekolah Dasar saja, ia sudah ikut andil di organisasi kelas sebagai sekretaris. Selain ambil bagian dalam organisasi kelas, sejak SD ia sudah mencicipi yang namanya organisasi ekstra. Ia bergabung dalam komunitas Pemuda Islam Indonesia (PII) di Sumenep, Jawa Timur. Setelah lulus SD, ia melanjutkan studinya di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep-Madura, Jawa Timur. Mulai dari sinilah ia banyak memperoleh ilmu yang bermanfaat, seperti pramuka, nasyid, pidato bahasa Arab dan Inggris, dan masih banyak lagi ilmu-ilmu lainnya yang ia dapatkan di pondok itu. Setelah lulus dari jenjang pendidikan SMP di Pondok Pesantren Al-Amien, kemudian ia melanjutkan tingkat pendidikannya ke Sekolah Menengah Atas di Pondok Pesantren Al-Amien juga. Di SMA inilah ia mulai mengembangkan sayapnya dalam berorganisasi. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Bagian Keterampilan dan Kepramukaan pada tahun 2005. Selain itu ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Jamiatul Qura’ pada tahun 2003-2004. Setelah lulus dari Pondok Pesantren Al-Amien, ia hijrah ke Kalimantan Barat, tepatnya di Pontianak. Kini ia kuliah di Jurusan Dakwah STAIN Pontianak, dengan program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam. Saat ini aktivitasnya banyak diisi dengan hal-hal yang berbau tulis-menulis. Ia sering mengsisi kolom-kolom publik ataupun opini di media-media yang ada di Kalimantan Barat. Tulisannya yang pernah ia buat seperti: Di Balik Euforia Valentine Day (Borneo Tribune), Pemberdayaan SDM Secara Optimal (Borneo Tribune) dan menulis cerpen berjudul Hitam dan Putih dan Preman Jadi Orang Beriman.

Komunikasi Penyiaran Dakwah Melalui Media Elektronik

BAB I

Pendahuluan

Belum lama ini masyarakat Indonesia dibuat terpana dengan munculnya film Ayat-Ayat Cinta atau yang biasa disebut AAC. Film yang berbackground Islami ini, laku keras di masyarakat. Tak kurang dari tiga juta orang telah menonton film tersebut. Tidak hanya remaja yang antusias untuk menonton film beraroma cinta itu, akan tetapi orang-orang ternama di negeri ini. Sebut saja, Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono dan Istri, kemudian mantan Presiden Republik Indonesia B.J. Habibie dan Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla pun juga ikut dalam hipnotis film tersebut.

Film yang menceritakan tentang alunan percintaan antara mahasiswa asal Indonesia yang sedang kuliah di Al-Azhar, Kairo, Mesir, dengan empat wanita sekaligus itu, membuat hati dari setiap insan yang mencoba menontonnya berdegup kencang mengikuti jalur cerita fenomenal itu. Karena begitu fenomenalnya, hingga ada seorang lelaki yang meninggal ketika sedang menyaksikan film AAC ini. Lelaki itu meninggal akibat serangan jantung yang menerpanya sejak dulu. Dan yang lebih menariknya lagi, sang Istri yang sedianya duduk di sampingnya, tidak mengetahui bahwa suaminya telah meninggal. Sang Istri terhipnotis penuh dengan alur cerita cinta syahdu itu.

Betapa spektakulernya film ini, di saat kejadian atau peristiwa meninggalnya seorang lelaki itu berdengung kencang di masyarakat, akan tetapi peristiwa ini tak mempengaruhi niat masyarakat untuk menonton film AAC ini. Ratusan antrian panjang yang memadati ruangan bioskop menjadi bukti bahwa kharisma film ini memang menggelora di hati penontonnya.

Sengatan-sengatan syahdu yang mewarnai film yang rencananya akan dilanjutkan lagi dengan serial film AAC 2 ini, seketika memberi pandangan bahwa daya tarik visual yang ditampilkan lewat layar lebar itu memunculkan respon sangat kuat bagi penglihatan. Dengan adanya hal itu, maka nantinya hati akan menyambung respon awal dari penglihatan. Dan hasil akhirnya adalah aspek psikologis dari setiap individu akan tergoyahkan. Inilah yang nantinya akan membawa perubahan bagi tingkah laku atau sikap bagi penontonnya.

Namun bagaimana jadinya jika yang dimunculkan adalah film yang berbau hinaan ataupun sindiran bagi penonton. Akhir-akhir ini ada film dokumenter yang isinya secara tidak langsung menghujat dan menghina umat Islam di seluruh dunia. film ini dibuat oleh anggota parlemen Belanda yang bernama Geert Willders.

Dengan adanya film Fitna yang saat ini telah tersebar di internet, secara tidak langsung memancing emosi yang berlebihan di sebagian besar umat Islam. Berbagai demo menentang dan menghujat habis-habisan kepada sang pembuat film itu pun dilakukan oleh umat Islam di seluruh dunia, seperti Indonesia, Malaysia, Pakistan, Brunei Darussalam, Arab Saudi dan negara-negara Islam lainnya. Di Indonesia sendiri, protes terhadap film Fitna diprotes keras oleh organisasi-organisasi Islam seperti, Muhammadiyah, PB NU, pelajar, mahasiswa dan ormas-ormas Islam lainnya.

Tidak hanya berasal dari kalangan ormas-ormas Islam dan pelajar saja yang memprotes film Fitna karangan Wilders ini, akan tetapi Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono pun ikut memprotes sekaligus mencekal film tersebut. Bahkan, tak lama setelah film ini beredar di internet, pemerintah secara resmi melarang penanyangan film itu di Indonesia.

Sebenarnya film ini tidak hanya mendapat protes dan peringatan dari umat Islam saja, akan tetapi Pemerintah Belanda pun juga ikut memperingati Greet Wilders agar tidak membuat film yang melecehkan Al-Qur’an itu. Berbagai tindakan keras dilakukan oleh Pemerintah Belanda agar film ini tidak menyebar luas di masyarakatnya. Salah satu tindakan yang dilakukan oleh Pemerintah Belanda yakni stasiun-stasiun televisi yang ada di Belanda sudah menyatakan boikot atas penayangan film Fitna. Belum tamat sampai di situ peringatan keras atas penolakan film Fitna yang telah menggetarkan informasi dunia ini. Pihak PBB, NATO dan Komisi Eropa pun ikut mencekal film Fitna ini. Alasan yang paling urgen yaitu jika film Fitna ini ditayang, maka nantinya akan membawa dampak buruk bagi kedamaian dan keharmonisan dunia.

Dengan adanya dua penjelasan film di atas, kita dapat mencermati atau memahami bahwasanya media elektronik seperti televisi memang menjadi salah satu kegiatan komunikasi yang efektif. Akan tetapi dari semua komunikasi yang ditampilkan di televisi itu tidak semuanya mengandung nilai-nilai positif.

Di lain pihak, kita sebagai umat Islam yang memiliki tugas penting untuk selalu menyeru manusia kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar, sepatutnya berusaha dengan keras agar dakwah yang kita lakukan tidak sampai menyakiti perasaan orang lain. Berkaitan dengan studi kasus di atas, kita sebagai da’i haruslah bisa memanfaatkan segala sarana dakwah yang ada pada saat ini. Contohnya media elektronik, seperti radio, televisi, film, handphone dan internet. Namun satu yang perlu dicatat, dalam mempergunakan media elektronik sebagai sarana pendukung dakwah, haruslah mengetahui secara pasti mana yang baik dan buruk untuk kita syiarkan kepada khalayak ramai.

Oleh karena itu, untuk membahas secara luas mengenai komunikasi penyiaran dakwah melalui media elektronik yang benar, maka pada tahap selanjunya akan dijelaskannya mengenai hal tersebut.

BAB II

Pembahasan

Komunikasi Penyiaran Dakwah Melalui Media Elektronik

Berbicara mengenai komunikasi penyiaran dakwah melalui media elektronik adalah salah satu bentuk formulasi dakwah yang efektif di masa kini. Namun patut diperhatikan, media elektronik memang memiliki jangkauan yang luas untuk kita menyiarkan dakwah, akan tetapi formulasi dakwah ini bisa saja tidak efektif apabila jalinan komunikasi di dalamnya tidak sesuai dengan keinginan khalayak ramai.

Oleh karena itu, sebelum kita menginjak lebih jauh untuk menerawang jauh tentang efektifitas media elektronik sebagai formulasi dakwah, sebelumnya kita akan mengkaji dahulu apa itu komunikasi, dan bagaimana komunikasi yang baik itu.

Komunikasi bersala dari kata bahasa Latin, ‘communis’ yang berarti ‘membuat kebersamaan’ atau ‘membangun kebersamaan antara dua orang atau lebih. Komunikasi juga berasal dari akar kata bahasa Latin ‘communico’ yang berarti membagi (Cherry dalam Stuart, 1983).

Everett M. Rogers, seorang pakar sosiologi pedesaan AS membuat definisi komunikasi: “Komunikasi adalah proses di mana suatu ide dialihkan dari sumber kepada satu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka”.

Definisi tersebut kemudian dikembangkan oleh Rogers bersama D. Lawrencer Kincaid (1981) yang menyatakan: “Komunikasi adalah suatu proses di mana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya yang pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yang mendalam”.

Komunikasi jika kita pandang dari segi tujuannya yaitu untuk mengexplorasikan identitas diri. Selain itu untuk menanam dan menciptakan hubungan yang harmonis dengan orang lain. Dan yang paling urgen yaitu agar mempengaruhi orang lain untuk berperilaku dan berpikir sesuai kehendak kita.

Adapun fungsi dari komunikasi itu sendiri yaitu sebagai pererat jalinan hubungan dengan orang lain. Selain itu sebagai alat ampuh untuk mengungkap segala hasrat yang ada dalam benak hati kita. Entah seperti apapun bentuk pengungkapan hasrat dalam hati tersebut. Mungkin bisa saja dengan duduk manis sambil tersenyum, berdiri lesu sambil mengusap air mata, dan masih banyak lagi ungkapan hati yang kita timbulkkan melalui komunikasi menggunakan bahasa tubuh (non verbal).

Tapi yang pasti, fungsi umum yang selalu menjadi landasan berkomunikasi yaitu, seperti yang dijelaskan oleh Judy C. Pearson dan Paul E. Nelson bahwa ada dua fungsi umum: pertama, kelangsungan hidup diri-sendiri yang meliputi keselamatan fisik, meningkatkan kesadaran pribadi, menampilkan diri kita sendiri kepada orang lain dan mencapai ambisi pribadi. Kedua, kelangsungan hidup masyarakat, tepatnya untuk memperbaiki hubungan sosial dan mengembangkan keberadaan suatu masyarakat.

Bisa dilihat dari pernyataan pakar tersebut di atas, bahwasanya dorongan kita untuk berkomunikasi adalah untuk memenuhi kebutuhan pribadi (self need) dan untuk memenuhi kebutuhan lingkungan (environmental need).

Pada hakikatnya apa yang dikatakan pakar di atas benar. Kita sebagai makhluk sosial yang setiap waktunya saling memerlukan antara satu sama lain, tidak bisa lepas dari keterikatan hubungan komunikasi. Komunikasi di bangun untuk menyamakan persepsi antara satu dengan lainnya. Untuk menyamakan persepsi ini diperlukan suatu strategi yang mana menjadi senjata ampuh dari tujuan komunikasi yang akan dicapai. Strategi tersebutlah yang nantinya dapat membuat lawan bicara akan mengikuti segala hal yang kita inginkan. Baik buruknya komunikasi tergantung bagaimana komunikasi itu disusun lewat strategi komunikasi apik yang kita sampaikan.

Mengenai komunikasi yang baik itu diperlukan lima unsur pokok yang harus dipenuhi. Lima unsur pokok tersebut, antara lain: komunikator, pesan, komunikan, media dan efek.

Komunikator; pihak yang menyampaikan pesan baik itu verbal ataupun nonverbal. Pesan yang disampaikan komunikator bisa langsung secara perorangan (interpersonal), bisa pula dalam suatu rapat/pertemuan (small group atau public communication), dan bisa pula melalui media massa (mass communication).

Pesan; sebagai penafsiran lambang atau stimuli. Sebagai suatu proses penafsiran sangat tergantung pada penjelasan psikologis tentang komunikasi manusia. Selain itu pesan mencerminkan keadaan internal individu yakni perilaku, dalam bentuk tertentu, suatu manifestasi yang mencuat keluar dari konsep kotak hitam tentang sikap, keyakinan, nilai, citra, emosi dan sebagainya.

Komunikan; sering disebut juga penerima pesan. Pihak yang menerima pesan dari komunikator. Posisi komunikan sangat strategis karena merupakan sasaran dari komunikasi. Oleh sebab itu, dalam komunikasi dikenal paradigma “kenalilah pihak lain”, artinya komunikator harus memahami kondisi komunikannya. Jika komunikannya memiliki ‘adat’ tertentu, maka komunikator hendaknya menyesuaikan diri dengan ‘adat’ tersebut.

Media; suatu alat ataupun sarana komunikasi yang digunakan oleh komunikator untuk menyampaikan pesannya kepada komunikan. Media tersebut bisa berbentuk cetak ataupun elektronik, seperti koran, majalah, radio, televisi, handphone dan internet.

Efek; efek komunikasi menyangkut penambahan wawasan, perubahan sikap, dan tindakan yang dihasilkan oleh proses komunikasi ialah terjadinya suatu perkosaan yang dilakukan seorang remaja terhadap rekannya setelah sang remaja menonton film televisi yang salah satu adegannya menggambarkan perkosaan.

Itulah lima unsur komunikasi yang baik. Dengan adanya lima unsur inilah nantinya komunikasi yang kita bangun akan berjalan sesuai yang kita harapkan. Setelah komunikasi kita jelaskan sebagai awal mula dari terbentuknya dakwah. Kemudian langkah selanjutnya kita menjelaskan penyiaran. Karena penyiaran merupakan aspek penting untuk mengexpose segala komunikasi pesan dakwah yang kita sampaikan kepada khalayak.

Penyiaran awalnya berasal dari kata siar yang berarti menyebarluaskan informasi melalui pemancar. Kata siar ditambah akhiran an, membentuk kata benda, yang memiliki makna ‘apa yang disiarkan’ (J.B. Wahyudi, 1994).

Siaran dapat berupa siaran audio (radio), dapat pula dalam bentuk siaran radio visual gerak dan sinkron, seperti pada televisi siaran. Perangkat kerasnya terdiri atas: sarana dan prasarana, pemancar dan perangkatnya. Meliputi gedung dan jalan, studio, kamera elektronika, sistem lampu dan suara, dekorasi, sub dan master control dan alat-alat pendukung lainnya.

Kegiatan penyiaran ialah pembuatan dan proses menyiarkan acara siaran radio dan televisi serta pengelolaan operasional perangkat lunak dan keras, yang meliputi segi idiil, kelembagaan dan sumberdaya manusia, untuk memungkinkan terselenggaranya siaran radio dan televisi.

Salah satu unsur utama dari penyiaran itu adalah manusia. Manusia harus bekerjasama atas dasar saling pengertian, menghargai dan mengingatkan (asih, asah, asuh) untuk menghasilkan output siaran yang berkualitas.

Kegiatan penyiaran pada intinya merencanakan dan memproduksi rangkaian mata acara dalam bentuk audio/suara atau visual/gambar yang ditransmisikan dalam bentuk signal suara atau gambar, baik melalui udara maupun melalui kabel ataupun serat optic yang dapat diterima oleh pesawat penerima (radio/televisi) di rumah-rumah.

Perlu diketahui pula bahwa penyiaran sebagai suatu proses kerjasama antara-manusia penyiaran, memerlukan proses manajemen yang sesuai dengan sifat bidang kerja penyiaran, sebagai media komunikasi massa elektronika.

Setelah mengetahui tentang apa itu penyiaran, dari sini kita sudah mulai menemukan titik terang bagaimana menyiarkan dakwah yang tepat sesuai aturan-aturan konkrit yang baik dan benar. Selanjutnya, kita membahas mengenai dakwah melalui media elektronik.

Pengertian dakwah secara etimologi yaitu sebagai bentuk masdar dari kata yad’u (fiil mudhari’) dan da’a (fiil madzi) yang artinya adalah memanggil (to call), mengundang (to in vite), mengajak (to summer), menyeru (to propo), mendorong (to urge) dan memohon (to pray).

Sedangkan orang yang melakukan seruan atau ajaran tersebut disebut da’i (isim fail) artinya orang yang menyeru. Tetapi karena proses memanggil atau menyeru tersebut juga merupakan suatu proses penyampaian (tabligh) atas pesan-pesan tertentu maka pelakunya dikenal juga dengan istilah mubaligh.

Dengan demikian secara etimologi lughatan pengertian dakwah dan tabligh itu merupakan suatu proses penyampaian (tabligh) pesan-pesan tertentu yang berupa ajakan atau seruan dengan tujuan agar orang lain memenuhi ajakan tersebut.

Secara terminologi yaitu dapat dirangkai sebagai berikut: pertama, dakwah merupakan proses penyelenggaraan suatu usaha atau aktivitas yang dilakukan dengan sadar, sengaja dan berencana guna mempengaruhi pihak lain agar timbul dalam dirinya suatu pengertian, kesadaran, sikap penghayatan serta pengamalan ajaran agama tanpa adanya unsur paksaan. Kedua, usaha yang dilakukan antara lain berupa: ajakan untuk beriman dan mentaati Allah/ memeluk Islam serta amar ma’ruf nahi munkar. Ketiga, dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu, yaitu kebahagiaan dan kesejahteraan hidup yang diridhai Allah SWT. Keempat, lapangan dakwah sangat luas yaitu meliputi semua aktivitas manusia secara totalitas baik sebagai individu, sebagai abdi Tuhan, sebagai anggota masyarakat bahkan sebagai warga alam semesta.

Dakwah adalah suatu formulasi yang tepat untuk mengajak manusia ke jalan yang dirahmati-Nya. Untuk melakukan proses ke jenjang itu, diperlukan suatu komunikasi yang efektif, guna memudahkan dakwah kita. dakwah dan komunikasi selamanya tidak akan pernah berpisah. Karena pada dasarnya dakwah dan komunikasi memiliki titik temu di antara keduanya. Pengembangan metode dakwah dan metode pengembangan dakwah beserta ilmunya, sebagaimana komunikasi dan ilmunya dapat merambah ke dalam bidang-bidang lain, dalam upaya mewujudkan nilai pesan yang ingin dihasilkan.

Memperhatikan uraian di atas, tentu saja dapatlah diterima jika kemudian muncul jenis disiplin baru yang dinamakan “komunikasi dakwah”. Tujuannya tidak jauh dari tujuan dakwah. Namun terkombinasi dengan tujuan komunikasi, yaitu: pertama, bagi setiap pribadi muslim, dengan melakukan dakwah berarti bertujuan untuk melaksanakan salah satu kewajiban agama, dan memenuhi kebutuhan eksistensi dirinya dalam agama. Kedua, tujuan dari komunikasi dakwah ini, adalah terjadinya perubahan tingkah laku, sikap atau perbuatan yang sesuai dengan pesan kerisalahan Al-Qur’an dan Sunnah.

Dengan adanya pola tersebut, maka seharusnya dakwah dan keilmuan dakwah dapat bersentuhan dengan berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang, yang nantinya dapat mewarnai profesi kemasyarakatan dan kemanusiaan. Apabila hal ini dapat terwujud, maka nampak bahwa dakwah adalah bentuk komunikasi yang khas, atau bisa disebut sebagai komunikasi-plus.

Berbicara mengenai dakwah adalah bentuk komunikasi-plus, di sini sudah menuju pada inti pembahasan kita yakni komunikasi penyiaran dakwah melalui media elektronik. Pada dasarnya komunikasi penyiaran dakwah melalui media elektronik seperti saat ini sudah banyak dilakukan oleh para da’i-da’i di seluruh penjuru dunia. Tak terkecuali di Indonesia, da’i-da’i kondang seperti Aa Gym, Arifin Ilham, Jefri Al-Bukhori dan lainnnya memaksimalkan media elektronik untuk dakwahnya. Para da’i tersebut memiliki berbagai cara untuk menyiarkan dakwahnya melalui media elektronik. Salah satu contohnya yang ditunjukkan Aa Gym. Beliau menyiarkan dakwahnya melalui saluran telepon atau SMS.

Pada dasarnya melakukan dakwah seperti ini memiliki keuntungan dan kerugian. Karena kalau kita berkaca dengan cakupan audien pasti lebih banyak memperoleh sambutan dari masyarakat, akan tetapi walaupun begitu feedback yang ditunjukkan oleh masyarakat pastinya kabur dari genggaman da’i, karena dalam konteks ini audien tidak berhadapan langsung dengan sang da’i.

Mengenai macam-macam media elektronik yang dapat dimanfaatkan para da’i masa kini untuk menyiarkan dakwahnya berkutat pada radio, televisi, film dan internet. Sebenarnya masih banyak lagi sarana ataupun media-media elektronik yang dipakai untuk menyiarkan dakwah, seperti handphone, telegram, dan faximile. Namun sarana itu saat ini sudah dinilai kurang marak dari hangar-bingar dakwah melalui media elektronik.

  1. Radio

Berdakwah atau menyerukan kebaikan tidak hanya terbatas diatas mimbar saja, dan pada masa yang moderen ini radio merupakan salah satu sarana atau media yang bisa digunakan untuk memperluas dakwah. Dalam bukunya Asep kusnawan (Komunikasi penyiaran Islam: 2004), Ada beberapa factor efektivitas siaran baik itu disebabkan daya kekuatan yang dimilikinya. Diantaranya adalah daya langsung, daya tembus, dan daya tarik.

1. Daya Langsung

Tabligh atau berdakwah melalui siaran radio dalam ragka mencapai sasaran yakni pendengar tidak harus mengalami proses yang kompleks. Setiap materi dakwah tinggal diucapkan didepan micropoun radio. Pelaksanaannyapun berlangsung dengan mudah dan cepat. Setiap informasi atau berita yang terjadi, saat itupun dapat disiarkan secara langsung. Bahkan suatu peristiwa dapat diikuti oleh pendengar pada saat peristiwa itu berlangsung.

2. Daya Tembus

Daya tembus yang dimaksud disiniu adalah siaran radio tidak mengenal jarak dan rintangan. Selain waktu, jarak pun tidak menjadi masalah tergantung pada daya pancar pemancar. Yang pasti adalah bagaimanapun jauhnya tempat yang dituju oleh tabligh lewat siaran radio siaran, dapat ditembusnya selama masih dalam jangkauan pemancar.

3. Daya Tarik

Factor selanjutnya yang menjadikan radio tetap diminati adalah adanya daya tarik, yaitu sifat tabligh atau dakwah yang serba hidup atas tiga unsure yang ada pada radio itu sendiri.

a) Musik

Salah satu hal yang menjadi daya tarik bagi dakwah melalui radio adalah hadirnya musik. Tidak sedikit orang mendengarkan radio dengan motifasi mencari hiburan atau mendengarkan musik. Maka dari itulah petugas yang berurusan langsung dengan radio siaran berusaha agar segala macam program selalu ada nuansa hiburan didalamnya.

Jika berdakwah melalui radio, hiburan masih bisa dipertahankan dengan mendesain hiburan itu sedemikian rupa dan tidak kontra dengan program yang sedang mengudara. Jenis hiburanya atau musiknya bisa memilih lagu-lagu yang bernuansa atau bernafaskan Islami.

Ø Sifat Radio Siaran

Auditif, yang dimaksud dengan auditif adalah keberadaan siaran radio hanya untuk didengar. Siaran yang sampai ke telinga pendengar pun hanya sepintas lalu saja. Dengan adanya sifat radio itu, maka ada positif dan negativenya berdakwah melaui radio. Seorang da’i tidak bisa melihat langsung dampak dari materi dakwah yang teah disampaikannya terlebih jika tidak adanya sesi tanya jawab.

Ganguan, sebanagi media massa radio tidak luput dari kekurangan yaitu terjadinya ganguan. Beberapa kemungkinan ganguan yang bisa terjadi antara lain factor bahasa, ganguan pada chanel, serta ganguan factor mekanik atau yang berhubungan dengan peralatan (mesin).

Siaran radio tidak semulus dan sesempurna komunikasi antara dua orang yang berhadap-hadapan, sebab ia dilakukan melalui media dan medianya itu sendiri rentan terhadap ganguan. Ganguan yang sifatnya alamiah, diantaranmya sinar matahari yang mempengaruhi kejelasan siaran radio. Siaran juga terkadang dipengaruhi oleh cuaca dan turun naik gelombang atau ganguan teknis yang berupa tumpang tindih gelombang. Selain itu masih banyak ganguan yang lain terlebih jika radio tersebut sederhana sehingga berbagai kelemahan penagkapan siaran terjadi.

Ø Unsur-unsur Radio

Siaran radio sebagai output stasiun penyiaran yang dikelola oleh organisasi penyiar, merupakan hasil perpaduan antara kreativitas manusia dan kemampuan sarana, atau antara perangkat keras dengan perangkat lunak.

Perangkat keras diantaranya:

- Sarana dan prasarana

- Pemancar dan perangkatnya

Perangkat lunak:

- Manusia sebagai pengelola

- Program

Ø Memahami Tugas dan Pekerjaan Penyiar

Menjadi penyiar merupakan satu pekerjaan yang khas. Pekerjaan itu perlu dipelajari sepeti pekerjaan lainya, serta dibutuhkanya keterampilan atau kecakapan tersendiri. Menurut ahli radio, Ben G. Hennke dalam Onong Uchjana Efendi (1978:124), keahlian penyiar meliputi:

1. Komunikasi gagasan (communication of ideas)

2. Komunikasi kepribadian (communication of personality)

3. Proyeksi kepribadian (projection of personality)

- Keaslian (naturaless)

- Kelincahan (vitality)

- Keramahan (friendliness)

- Kesanggupan menyesuaikan diri (adaptability)

4. Pengucapan (pronouncation)

5. Control suara (voice controle)

- Pola titi nada (pitch)

- Kerasnya suara (loudess)

- Tempo (time)

- Kadar suara (quality) (Asep Kusnawan, Komunikasi Penyiaran Islam, 2004: 51-61)

Ø

  1. Telivisi

Tidak dipungkiri, dewasa ini telivisi merupakan media massa yang sangat popular di tengah masyarakat. Ia ada hampir disetiap tempat-tempat umum, kantor, rumah bahkan kamar. Oleh karena itu setiap informasi yang disampaikan melalui media telivisi akan sangat mudah sampai ketengah kaangan masyarakat.demikian juga pula yang disampaikan melalui telivisi adalah pesan-pesan dakwah atau tabligh maka dengan cepat tersosialisasikan.

Data terakhir menunjukkan bahwa saat ini ada sekitar 20-23 juta rumah tangga yang memiliki pesawat TV. Tidak kurang dari 18 jam sehari berbagai acara dan informasi dijejalkan pada pemirsa di seluruh tanah air. Itu berarti hanya ada enam jam sehari waktu yang masih kosong. Itu pun ketika jam tayang relative sama. Ketika sudah mulai banyak stasiun TV yang non-stop, berarti waktu kosong melihat TV semakin mengecil.

Jika rillnya demikian, sudah saatnya kita memikirkan bagaimana caranya mengambil bagian dalam waktu yang cukup dominan pada kehidupan sehari-hari untuk menyampaikan hal-hal tertentu yang benar dalam bingkai dakwah. Selama ini banyak umat Islam hanya menjadi orang yang menikmati hasil karya orang lain. Kalaupun ada yang sudah mampu memberikan warna itupun belum begitu besar. Ketika umat Islam bisa lebih menempati bagian-bagian tekhnologi, tidaklah mustahil komunikasi penyiaran dakwah akan berkibar dengan sukses.

Ø Unsur-unsur dalam Siaran Televisi

Dalam suatu siaran telivisi terdapat sejumlah unsure. Masing-masing unsure tersebut tidak hanya memiliki tugas dan tangung jawab masing-masing, tetapi juga berada dalam suatu sisitem kerja yang terkoordinasi yang semuanya berangkat untuk menyajikan acara penyiaran sebaik mungkin untuk yang mengkonsumsi acara televise (pemirsa).

1) Proses Penyajian Acara

Dalam sebuah penyajian acara, seorang da’i atau mubaligh televise akan berhubungan erat dengtan berbagai pihak yang terlibat didalam proses penyajian suatu acara siaran televise, diantaranya prosedur, pengarah acara, asisten pengarah acara dan masih banyak lagi orang-orang yang akan terlibat didalam sebuah produksi televisi. Berbeda dengan penyiaran radio, televisi memiliki kesulitan dan kerumitan yang lebih dari radio. Maka dari itulah orang-orang atau sumber daya manusia yang menaganinya pun haruslah banyak dan memiliki disiplin ilmu tersendiri.

2) Pola Acara Siaran Televisi

Dunia penyiaran memiliki dampak yang sangat luas di masyarakat, sehingga perencanaan menjadi sangat penting untuk menentukan acara yang akan dirasakan. Perencanaan meliputi pengadaan materi siaran (produksi) serta penyiran materi siaran tersebut. Pengadaan mata acara (pogram) dalam siaran dapat diperoleh melalui:

1. Diproduksi sendiri

2. Diproduksi dengan melibatkan pihak lain

3. Hasil pertukaran program dengan stasiun lain

4. Dibeli dari usaha rumah poduksi (production house)

5. Merelai dari stasiun produksi lain

Hal yang harus ada pada mata acara:

- Judul mata acara

- Kriteria atau batasan penyiaran

- Format atau bentuk penyajian

- Durasi atau lama waktu siaran

Penentuan mata acara hendakya dilandasi oleh:

- Misi, fungsi dan tugas stasiun penyiaran

- Landasan filosofi, konstitusional dan operasional

- Hasil riset khalayak sebagai konsumen

- Norma, etika, estetika yang berlaku

- Kebijakan interen dan eksteren

Keterampilan bagi seorang penyiar merupakan aspek yang penting, salah satunya adalah keterampilan berbahasa yang didalamnya memiliki empat komponen. Keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca dan keterampilan menulis. Setiap keterampilan tersebut erat sekali hubunganya dengan proses-proses yang mendasari bahasa. Bahasa yang digunakan seseorang, semakin cerah dalam berbahsa, maka semakin jelas pulalah jalan pikiranya. Ketermpilan yang dimiliki hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan cara sering berlatih. Melatih keterampilan berbahasa seperti pula melatih keterampilan berpikir.

Bahasa yang digunakan dalam dunia televisi sangat khas, karena memadukan kata-kata, suara dan gambar bergerak secara bersama-sama dan seketika. Dalam perspektif komunikasi, berita memiliki daya tarik tersendirisebagai suatu pesan:

1. Organisasi pesan

2. Urutan pesan

3. Gaya pesan

4. Daya tarik pesan

Organisasi pesan adalah bagaimanan cara mengorganisasikan pesan yang akan disampaikan oleh televisi. Asep Kusnawan dalam (Komunikasi Penyiaran Islam, 2004: 73-85).

  1. Film

Pengaruh film dari pesan-pesan yang termuat dalam adegan-adegan film akan membekas dalam jiwa penonton. Lebih jauh pesan itu akan membentuk karekter penonton. Menurut Onong Uchjana Effendi (2000) film merupakan medium komunikasi yang ampuh. Bukan saja untuk hiburan tetapi juga untuk penerangan dan pendidikan. Bahkan Jakob Sumardjo, dari pusat pendidikan film dan televisi menyatakan bahwa film berperan sebagai pengalaman dan nilai.

Film sebagai media komunikasi dapat berfungsi pula sebagai media tabligh atau media dakwah yaitu untuk mengajak kepada kebenaran dan kembali menginjakkan kaki di jalan Allah. Tentunya sebagai sebuah media dakwah film memiliki kelebihan tersendiri dibandingkan dengan medai-media lain. Film bisa menjadi media dakwah yang efektif, dimana pesan-pesannya dapat disampaikan kepada penonton secara halus dan menyentuh relung hati tanpa mereka merasa digurui. Hal-hal ini senada dengan ajaran Allah SWT bahwa untuk mengkomunikasikan pesan, hendaknya dilakukan secara qawlan syadidan, yaitu pesan yang dikomunikasikan dengan benar, menyentuh hati dan membekas dihati.

Dengan karakternya inilah film diharapkan dapat menggiring pemirsanya kepada ajaran Islam yang akan menyelamatkan, sebagaimana dalam QS. Al-Furqan [25]:36. Berkaitan dengan karakter film yang dapat menyampaikan dengan cara qawlan syadidan, menurut Graeme Turner, disebabkan oleh karna film membentuk dan menghadirkan kembali realitas berdasarkan kode-kode, konvensi-konvensi dan ideologi dari masyarakat.

Karena filom mempunyai kelebihan bermain pada sisi emosional, ia mempunyai pengaruh yang lebih tajam untuk memainkan emosi pemirsa. Berbeda dengan buku yang memerlukan daya fikir aktif, penonton film cukup bersikap pasif. Hal ini karena sajian film adalah sajian siap untuk dinikmati.

Efek terbesar film, sebagaimana yang diungkapkanSoelarko (1978) adalah peniruan yang diakibatkan oleh anggapan bahwa apa yang dilihatnya wajar dan pantas untuk dilakukan oleh setiap orang. Film dengan menampilkan kebudayaan Islam dan bhawa misi keselamatan bagi eluruh manusia. Dengan demikian film semakin penting untuk menjadi bahan pemikiran yang agak serius bagi kalangan umat muslim khususnya mereka yang bergerak dalam bidang tabligh atau dakwah.

Ø Unsur-unsur dalam Sebuah Film

Terdapat beberapa yang menjadi unsur sebuah film:

2. Title atau judul

3. Cridet title, meliputi; prosedur, karyawan, artis, ucapan terimakasih dan lain sebagianya.

4. Tema film untuk mencapai tujuan

5. Klimaks, yaitu benturan atau kentingan

6. Plot (alur cerita)

7. Suspen atau keterangan, masalah terjadinya peristiwa

8. Sinopsis, gembaran ringkas kepada orang yang berkepentingan

9. Trailer yaitu bagian film yang menarik

10. Charter yaitu karakteristik pelaku-pelakunya

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Perkembangan sains dan teknologi pada saat ini diakui begitu cepat. Kecepatanya bahkan melebihi kemampuan manusia dalam menyesuaikan diri dengan dampak sains dan teknologi itu sendiri. Salah satu kemajuan yang begitu pesat pada saat ini sebagai implikasi dari moderenisasi yang ditopang oleh perangkat utamanya yaitu ilmu pengetahuan dan tekhnologi dalam dunia informasi.

Dizaman sekarang ini dakwah tidak hanya cukup disampaikan dengan lisan belaka, yang aktivitasnya hanya dilakukan dari mimbar kemimbar tanpa bantuan alat-alat modern yang sekarang terkenal dengan sebutan alat-alat komunikasi massa. Sehingga dalam perjalanan menggapai tujuan tabligh, tentunya, perlu suatu media sebagai perantara untuk menyampaikan pesan kepada mad’u yang homogen maupun heterogen.

Semua media esensialnya adalah mempermudah aktifitas dalam bidang dakwah. Media yang telah banyak bermunculan saat ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ada yang memliki kecangihan yang luar biasa, tetapi tetap saja memiliki titik lemah sehingga segala kemungkinan akan tetap bisa terjadi.

DAFTAR PUSTAKA

Sam Abede Pareno, Kuliah Komunikasi Pengantar dan Praktek: 2002, Surabaya: Papyrus.

Ahmad Anas, Paradigma Dakwah Kontemporer: 2006, Semarang: PT Pustaka Rizki Putra.

Siti Muriah, Metodologi Dakwah Kontemporer: 2000, Yogyakarta: Mitra Pustaka.

Asep Kusnawan, Komunikasi Penyiaran Islam: 2004, Benag Merah Press, Bandung.

Muhamad Mufidh, Komunikasi dan Regulasi Penyiaran: 2005, Fajar Interpratama Offset, Jakarta.